KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT United Tractors Tbk (
UNTR) pada paruh kedua tahun 2026 masih akan sangat bergantung pada pemulihan aktivitas pertambangan batubara dan kembalinya operasional Tambang Emas Martabe. Perlu diketahui, UNTR mencatat penurunan kinerja keuangan pada paruh pertama tahun ini, baik sisi
top line maupun
bottom line. Laba bersih UNTR merosot tajam 88,2% YoY menjadi Rp 956,28 miliar hingga Juni 2026, dari sebesar Rp 8,13 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan laba terjadi seiring melemahnya pendapatan yang pada periode ini turun 15% YoY menjadi Rp 58,29 triliun dari Rp 68,53 triliun pada semester I-2025.
Manajemen UNTR bilang, penurunan ini terutama dikarenakan penjualan emas yang lebih rendah di PT Agincourt Resources, serta penurunan kinerja pada segmen alat berat dan pertambangan batubara termal dan metalurgi sebagai dampak alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) batubara nasional tahun 2026 yang lebih rendah.
Baca Juga: Bakrie Sumatera (UNSP) Private Placement 14,50 Miliar Saham Seri B, Ini Rinciannya Hal ini sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor kontraktor penambangan yang terutama didorong oleh penguatan kurs dolar Amerika Serikat (AS). Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan laba ini merupakan dampak dari kombinasi tiga faktor yang terjadi secara bersamaan. “Laba turun secara tahunan adalah triple hit yang jarang terjadi bersamaan. Seperti RKAB batubara dipangkas tekan segmen alat berat (
demand customer tambang turun) dan segmen batubara UNTR sendiri, plus penghentian sementara Tambang Emas Martabe hilangkan diversifikasi earnings dari emas,” terang Wafi kepada Kontan, Kamis (6/8/2026). Wafi mengatakan, prospek UNTR pada semester II-2026 akan ditentukan oleh dua faktor utama. Pertama, apakah revisi RKAB pada Juli 2026 mampu meningkatkan kembali permintaan alat berat dari pelanggan pertambangan. Kedua, kapan Tambang Emas Martabe dapat kembali beroperasi. “Jika keduanya positif, maka
recovery percentage bisa besar meski
starting point sangat rendah,” lanjut Wafi. Sementara itu, Analis UBS Sekuritas Indonesia Igor Putra mencermati, UNTR menaikkan panduan operasional 2026, dengan menunggu persetujuan kuota RKAB untuk sektor tambang. Dicatatnya rinciannya sebagai berikut:
Pertama, target penjualan/produksi batubara milik sendiri (TTA) naik menjadi 9,5 juta ton/10,5 juta ton dari sebelumnya 7,5 juta ton produksi.
Kedua, target overburden removal/coal getting meningkat menjadi 950 juta bcm/135 juta ton dari 910 juta bcm/130 juta ton.
Ketiga, target penjualan bijih nikel naik menjadi 1,3 juta wet metric ton (wmt) dari 1,2 juta wmt. Dan terakhir, target produksi Komatsu (4.000 unit), Martabe (60 ribu ons emas), serta Sumbawa Juta Raya (20 ribu ons emas) tetap tidak berubah. “Panduan tersebut masih bergantung pada pengumuman RKAB. Apabila persetujuan RKAB diterbitkan hingga akhir Agustus 2026, target tersebut dapat dipertahankan. Namun, jika belum ada kepastian, manajemen berpotensi menurunkan kembali panduan 2026,” jelas Igor.
Baca Juga: Kinerja Surya Semesta Internusa (SSIA) Pulih per Semester I 2026, Simak Prospeknya Lebih dalam, Head of Research OCBC Sekuritas Budi Rustanto bilang, UNTR berencana membangun fasilitas penyimpanan tailing tambahan setelah memperoleh izin pembebasan lahan, dengan target penyelesaian pada kuartal III 2027. Dengan demikian, produksi emas diperkirakan pulih secara bertahap menjadi 80-100 ribu ons pada 2027 sebelum meningkat signifikan menjadi sekitar 200 ribu ons pada 2028. Dari sisi katalis, Wafi mengatakan, revisi RKAB berpotensi mendorong permintaan alat berat. Selain itu, harga batubara yang bertahan di atas US$ 150 per ton dinilai dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan tambang sehingga mendorong belanja modal untuk pembelian alat berat. Normalisasi operasional Tambang Emas Martabe juga diperkirakan akan langsung memberikan tambahan pendapatan bagi perseroan. Sebaliknya, sejumlah sentimen negatif masih perlu dicermati. Wafi menyebut, suku bunga acuan Bank Indonesia yang bertahan di level tinggi 5,75%, berpotensi meningkatkan
financing cost customer dalam membeli alat berat yang umumnya menggunakan fasilitas
leasing. Selain itu, perlambatan ekonomi global akibat kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi menekan permintaan komoditas. Ketidakpastian terkait kebijakan RKAB juga masih menjadi faktor risiko bagi kinerja UNTR. Equity Research Analyst Sucor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari menambahkan, kinerja keuangan UNTR masih akan tertekan pada 2026. Pendapatan UNTR diperkirakan turun 18,8% YoY dari Rp 131,30 triliun pada 2025 menjadi Rp 106,63 triliun pada 2026.
Sejalan dengan itu, laba bersih UNTR diperkirakan menyusut lebih dalam, yakni 32,0% secara tahunan dari Rp 14,81 triliun pada 2025 menjadi sekitar Rp 10,07 triliun pada 2026. Mempertimbangkan berbagai sentimen di atas, Yoga pun memberikan rekomendasi kepada investor untuk
hold saham UNTR dengan target harga Rp 22.600 per saham. Kemudian Budi mempertahankan rekomendasi
buy saham UNTR dengan target harga Rp 29.000 per saham. Ada pun Igor memberikan rekomendasi untuk
buy saham UNTR dengan target harga 12 bulan menjadi Rp 31.500 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News