United Tractors (UNTR) Prediksi Kinerja Masih Menantang hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) memproyeksikan outlook kinerja operasional perseroan masih cukup menantang hingga akhir tahun 2026. 

Meski begitu, manajemen melihat masih ada peluang perbaikan untuk paruh kedua tahun ini. 

President Director United Tractors, Iwan Hadiantoro, menjelaskan kinerja perusahaan pada semester I 2026 cukup tertekan, baik dari sisi operasional maupun akibat pencatatan impairment yang harus dilakukan perseroan.


Kendati demikian, Iwan menyampaikan tetap optimis kinerja operasional perusahaan akan berangsur membaik memasuki semester II 2026, yang dimulai sejak Juli. Menurutnya, perbaikan kondisi pada paruh kedua ini akan didorong oleh sejumlah faktor utama.

Baca Juga: Kinerja ERAA Berpeluang Meningkat pada Paruh Kedua 2026, Ini Faktor Pendukungnya

Pertama, adanya peningkatan pada segmen tambang batu bara milik perseroan. Kedua, terdapat revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang turut memengaruhi kinerja. Selain itu, manajemen juga berharap ada perbaikan pada penjualan alat berat, bisnis mining contracting, serta kinerja tambang emas milik perusahaan.

"Kita bisa lihat bahwa di tahun paruh kedua tahun 2026 dimulai bulan Juli ke depan ini, kita harapkan kondisinya berangsur membaik," kata Iwan dalam agenda public expose, Senin (7/9/2026).

Disamping itu, Iwan juga mengungkapkan tambang emas Martabe telah kembali berjalan sejak akhir Mei 2026 lalu. Namun, operasional tersebut saat ini masih dalam tahap pemulihan dan belum kembali normal 100% seperti kondisi tahun sebelumnya.

Iwan menyebutkan, proses pemulihan penuh Martabe membutuhkan dua persiapan utama yang harus dilakukan secara bertahap, yakni infrastruktur dan ketersediaan tenaga kerja.

Sebagai informasi tambahan dari sisi keuangan, kinerja pendapatan bersih UNTR hingga dengan semester pertama tahun 2026 mencapai Rp 58,3 triliun, turun sebesar 15% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025. Ini disebabkan terutama penjualan emas yang lebih rendah di PT Agincourt Resources, serta penurunan kinerja pada segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal dan metalurgi sebagai dampak alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026 yang lebih rendah. 

Laba bersih UNTR tidak termasuk non-recurring item turun 48% menjadi Rp 4,3 triliun, terutama karena penjualan emas yang lebih rendah dari PT Agincourt Resources dan penurunan pendapatan yang sebagian besar mencerminkan dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026 yang lebih rendah. 

Adapun selama semester pertama tahun 2026, UNTR mencatat non-recurring item senilai Rp 3,3 triliun rupiah, terutama terdiri dari penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan persetujuan pemanfaatan kawasan hutan PPKH di tambang nikel Stargate.

Baca Juga: ICX Proyeksikan Penghimpunan Dana Bisa Tumbuh 243% hingga Akhir Tahun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News