Unitlink Saham Berbasis Valuta Asing Cetak Return 4,18% per September 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Unitlink saham berbasis valuta asing mencatatkan kinerja positif hingga September 2026, di tengah tekanan pada produk berbasis domestik. Pelemahan rupiah turut memberikan tambahan imbal hasil bagi investor ketika keuntungan investasi dalam valuta asing dikonversi ke mata uang rupiah.

PT Infovesta Utama (Infovesta) mencatat, rata-rata imbal hasil atau return unitlink saham berbasis valuta asing mencapai 4,18% secara year to date (YtD) hingga September 2026.

Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, mayoritas produk unitlink saham berbasis valuta asing berhasil membukukan kinerja positif sepanjang periode tersebut.


"Sebanyak 44 dari 72 produk unitlink saham berbasis valuta asing positif. Dengan demikian, data menunjukkan produk berbasis valuta asing memang menjadi penyelamat portofolio tahun ini," ujarnya kepada Kontan, Rabu (14/10/2026).

Baca Juga: Punya 24,3 Juta Nasabah, BSI Bidik Generasi Muda dengan Perluasan Layanan Digital

Sebaliknya, unitlink saham berbasis domestik mencatatkan kinerja yang lebih tertekan. Wawan menerangkan, kategori tersebut membukukan rata-rata return negatif sebesar 15,76% hingga September 2026.

Selain unitlink saham, produk unitlink pasar uang berbasis valuta asing, khususnya dolar Amerika Serikat (AS), juga mencatatkan kinerja positif. Menurut Wawan, beberapa produk dalam kategori ini mampu menghasilkan return sebesar 8,6% hingga 8,9% secara year to date.

Wawan mengungkapkan, pelemahan rupiah memberikan tambahan imbal hasil ketika keuntungan investasi dalam valuta asing dikonversi ke rupiah. Kondisi tersebut turut menjelaskan meningkatnya daya tarik produk unitlink berbasis valuta asing di tengah tekanan pada instrumen investasi domestik.

Meski demikian, kinerja positif tidak terjadi pada seluruh kategori unitlink berbasis valuta asing. Infovesta mencatat, unitlink pendapatan tetap berbasis dolar AS justru mengalami penurunan rata-rata return sebesar 1,53% pada September 2026 dan terkoreksi 1,72% secara year to date hingga September 2026.

Baca Juga: Bisnis Pembiayaan Dana Tunai Adira Finance Diyakini Tumbuh Positif hingga Akhir 2026

Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa hasil investasi unitlink tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar, tetapi juga oleh kinerja aset yang menjadi dasar investasinya.

Ke depan, Wawan menilai produk unitlink berbasis valuta asing masih menarik sebagai instrumen diversifikasi portofolio. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko fluktuasi nilai tukar yang dapat memengaruhi hasil investasi dalam rupiah.

"Apabila Rupiah kembali menguat, sebagian keuntungan dari selisih kurs bisa tergerus," tuturnya.

Oleh karena itu, Wawan menyarankan agar investor menempatkan unitlink berbasis valuta asing sebagai pelengkap portofolio, bukan sebagai pengganti seluruh investasi berbasis rupiah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News