UNSP bayar utang US$ 60 juta tahun ini



JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) harus menyediakan US$ 60 juta untuk mencicil utang pada tahun ini. UNSP akan menggunakan kas internal untuk keperluan itu.

Kewajiban yang akan dilunasi antara lain sebagian utang ke Credit Suisse dan Bank Mandiri. Utang ini muncul setelah UNSP mengakuisisi PT Domba Mas (Domas) pada 2010. Selain dua kreditur itu, UNSP juga akan membayar utang obligasi dari anak usahanya, Agri Resources.

Sebagai catatan, saat dibeli UNSP, Domba Mas menanggung utang US$ 313 juta. Utang Domas diperoleh dari beberapa kreditur. Pertama, utang US$ 190 juta ke Credit Suisse. Kedua, utang US$ 45 juta ke Procter and Gamble (P&G). Ketiga, Domas juga berutang ke Bank Mandiri US$ 78 juta. "Utang ke P&G sudah selesai," kata Ambono Janurianto, Direktur Utama UNSP kepada KONTAN, pekan lalu.


Lewat restrukturisasi, utang ke Bank Mandiri dibagi menjadi dua tranche yaitu tranche A meliputi bunga dan cicilan US$ 38 juta. Kemudian tranche B senilai US$ 40 juta dengan ketentuan tiga tahun pertama UNSP hanya membayar bunga saja. "Proses restrukturisasi utang sudah diteken 2011," kata Ambono.

Setelah direstrukturisasi, jatuh tempo utang itu diperpanjang tujuh tahun menjadi 2017. “Kami akan membayar ke Mandiri pada Mei, dan Juni ke sindikasi Credit Suisse," tandas Ambono.

Total jenderal, dengan cicilan utang yang lain, UNSP akan membayar pokok dan bunga utang tahun ini senilai US$ 60 juta (setara Rp 540 miliar) dengan kas internal. Pengelola UNSP memproyeksikan laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sepanjang tahun ini mencapai US$ 180 juta, atau sekitar 2 triliun. Sedangkan pendapatan selama tahun 2012 diproyeksikan mencapai Rp 4 triliun.

Refinancing obligasi

Khusus utang obligasi senilai US$ 150 juta terbitan anak usaha, Agri Resources, UNSP siap melakukan refinancing. Surat utang ini akan jatuh tempo Juli 2012.

Menurut Ambono, kemungkinan besar UNSP akan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (private placement). Dia mengklaim, sejumlah investor asing siap masuk dalam aksi korporasi ini. "Kalau menerbitkan obligasi, ratingnya enggak cukup. Sekarang masih kami kaji," kata dia.

Pengamat pasar modal, Irwan Ariston Napitupulu, menilai, restrukturisasi utang dengan memperpanjang masa pembayaran kewajiban bisa berdampak positif bagi kinerja UNSP. Tapi Irwan mengkritisi transparansi manajemen UNSP. Kepentingan pemegang saham publik kerap diabaikan. “Pelaku pasar mengkhawatirkan laporan keuangan yang kurang transparan," ungkap dia.

Irwan mencontohkan ketika UNSP mengakuisisi Domba Mas, yang dinilai terlalu tinggi. Jika nilai pembelian awal di harga wajar, tak masalah, meski perusahaan itu punya utang. Sebab, keuntungan perusahaan bisa dipakai untuk membayar utang tadi. Tapi jika nilai akuisisinya lebih tinggi dari valuasi, ini yang membebani perusahaan.

Irwan menghitung price to earning ratio (PER) UNSP, sangat rendah, yakni 3,4 kali mengacu ke harga terakhir UNSP. Angka itu lebih rendah daripada valuasi saham sejenis, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang memiliki PER 14,8 kali, atau PER industri di atas 10 kali.

Irwan memperkirakan harga saham UNSP berpotensi menuju Rp 500 per saham, bahkan kembali ke Rp 700 per saham. Sebab, bisnis perkebunan, seperti minyak sawit dan karet, saat ini masih menjanjikan.

Dia merekomendasikan speculative buy untuk saham UNSP. Bila investor maupun trader ingin masuk ke UNSP, jangan terlalu besar, cukup 5% dari portofolio saham. Irwan mengingatkan utang besar cenderung berbahaya bagi perusahaan saat ancaman krisis ekonomi melanda.

Harga saham UNSP, Jumat (2/3) lalu, meningkat 1,72% menjadi Rp 295 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News