KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) akan mulai mengeksekusi penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement melalui penerbitan 14,51 miliar saham Seri B pada 4 Agustus 2026. Pelaksanaan private placement ini merupakan tindak lanjut atas persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 3 Juli 2026 untuk memperbaiki posisi keuangan UNSP melalui konversi utang menjadi saham.
Melansir keterbukaan informasi pada Selasa (28/7), saham baru hasil private placement akan mulai dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 4 Agustus 2026. Adapun pemberitahuan hasil pelaksanaan private placement dijadwalkan disampaikan pada 6 Agustus 2026. Seperti diketahui, UNSP akan menerbitkan sebanyak 14,51 miliar saham Seri B dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Saham baru itu diterbitkan melalui mekanisme konversi sebagian utang UNSP kepada para krediturnya menjadi modal.
Baca Juga: Anak Usaha WIFI Terbitkan Samurai Bonds Senilai JPY 21,4 Miliar Jumlah tersebut setara dengan 580,17% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Sebagai konsekuensinya, pemegang saham lama emiten Grup Bakrie ini berpotensi mengalami dilusi hingga 85,30%. Total utang yang akan dikonversi mencapai Rp 4,35 triliun. Ini berasal dari kewajiban kepada Poseidon Corporate Services Limited, Pacific Harbor Advisors, sejumlah pemegang surat utang, PT Biofuel Indo Sumatra, serta PT Danatama Makmur Sekuritas. Manajemen UNSP menjelaskan konversi utang dilakukan kepada sejumlah kreditur dan pemegang surat utang sebagai bagian dari upaya memperbaiki posisi keuangan UNSP melalui mekanisme private placement. “Langkah ini akan memperbaiki posisi keuangan UNSP, di mana UNSP akan memiliki rasio utang yang lebih sehat, beban keuangan yang berkurang, dan arus kas yang lebih kuat di masa yang akan datang,” tulis manajemen UNSP, Selasa (28/7). Pasca-restrukturisasi, total liabilitas UNSP diproyeksikan turun dari Rp 8,76 triliun menjadi Rp 4,41 triliun atau berkurang sekitar 49%. Defisiensi modal juga diperkirakan menyusut dari Rp 5,27 triliun menjadi Rp 919,08 miliar.
Menurut manajemen UNSP, penurunan beban utang akan memperkuat struktur permodalan, meningkatkan profitabilitas, memperbaiki arus kas, serta membuka ruang bagi UNSP memperoleh pendanaan baru untuk mendukung operasional maupun ekspansi usaha. "Dengan penurunan kewajiban/liabilitas dan penurunan defisiensi modal akan meningkatkan kinerja dan akan memberikan kemampuan dan ruang pada UNSP untuk membuka investasi baru dan dapat melakukan ekspansi," tulis manajemen UNSP. RUPSLB juga menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor UNSP menjadi Rp 2,94 triliun seiring pelaksanaan private placement, sekaligus memberikan kewenangan kepada Dewan Komisaris untuk merealisasikan peningkatan modal tersebut. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News