KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT United Tractors Tbk (
UNTR) diperkirakan menghadapi tantangan sepanjang 2026 setelah manajemen merevisi turun sejumlah target operasional dan memangkas belanja modal tahun ini. Dalam paparan kinerja kuartal I-2026, manajemen UNTR menurunkan panduan operasional di hampir seluruh segmen usaha. Penjualan batubara Tuah Turangga Agung (TTA) tercatat menjadi salah satu yang terdampak paling besar dengan target penjualan hanya 7,5 juta ton atau menurun sekitar 35% akibat rendahnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Selain itu, perseroan juga memangkas belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar 27% menjadi US$ 650 juta dari target awal US$ 880 juta. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pemangkasan capex Pama hingga 50%. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai kondisi tersebut membuat target pertumbuhan laba UNTR pada tahun ini akan sulit dicapai.
Baca Juga: Koreksi Kripto Berlanjut, Bitcoin Tetap Menarik bagi Investor Jangka Panjang "Target pertumbuhan laba akan sulit dicapai. Skenario yang lebih realistis adalah menjaga laba tetap stabil (earnings preservation) dengan mengandalkan efisiensi capex dan mempertahankan arus kas yang tetap positif," ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (29/5/2026). Di satu sisi, Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia Arnanto Januri, mencatat UNTR akan menargetkan produksi emas Martabe menjadi hanya 60.000 ons pada 2026 dan sekitar 70.000 ons pada 2027. Target tersebut jauh di bawah kapasitas produksi normal Martabe yang mencapai 200.000 ons per tahun. Katanya, ini disebabkan oleh keterlambatan pembangunan fasilitas tailing kering (dry tailing storage facility/TSF) akibat banjir di Sumatera Utara pada akhir 2025, yang kemudian diperparah oleh penghentian sementara operasional Martabe pada kuartal I-2026. "Jika produksi hanya mencapai 70.000 ons, maka terdapat risiko penurunan sekitar 25% terhadap estimasi laba kami pada 2027, atau sekitar 20% di bawah konsensus pasar saat ini," terang Arnanto dalam riset 30 April 2026 Meski demikian, Wafi bilang masih terdapat sejumlah katalis yang dapat menopang kinerja UNTR sepanjang tahun ini. Dari sisi komoditas, harga batubara global yang masih relatif solid menjadi faktor pendukung utama. Permintaan batubara dari negara-negara Asia seperti China, India, dan kawasan ASEAN juga dinilai masih cukup besar. Menariknya, pengetatan RKAB di dalam negeri justru berpotensi menopang harga batubara karena membatasi pasokan dari Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar dunia. Selain itu, normalisasi operasional tambang emas Martabe pada paruh kedua 2026 juga berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan kinerja. Jika aktivitas tambang kembali berjalan sesuai rencana, produksi emas dapat mendekati target.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 17.805 per Dolar AS, Ditopang Sentimen DHE dan Harga Minyak Di segmen nikel, pertumbuhan nikel Stargate juga dinilai dapat menjadi penyangga tambahan bagi kinerja UNTR di tengah tekanan pada bisnis batubara dan alat berat. Faktor makroekonomi juga berpotensi menjadi katalis positif. Wafi mengatakan, apabila bank sentral AS mulai melonggarkan kebijakan moneternya dan dolar AS melemah, maka segmen emas UNTR berpeluang memperoleh manfaat tambahan dari kenaikan harga emas global. Selain itu Analis UBS Sekuritas Indonesia Igor Putra, dalam riset 30 April 2026, menyebut manajemen UNTR mengungkapkan perseroan tengah meninjau kembali strategi merger dan akuisisi (M&A) di tengah pembahasan terkait total shareholder return (TSR). Igor memperkirakan kejelasan lebih lanjut mengenai strategi tersebut akan diperoleh bulan depan. Perlu diketahui UNTR membukukan laba bersih, tidak termasuk non-recurring charges, sebesar Rp 1,8 triliun pada kuartal I-2026 atau turun 44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sejalan dengan itu, pendapatan bersih tercatat sebesar Rp 28,6 triliun atau turun 17% dibandingkan Rp 34,3 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Igor memproyeksi kinerja keuangan UNTR masih akan menghadapi tekanan pada 2026. Pendapatan perseroan diproyeksikan lebih rendah menjadi Rp 104,52 triliun pada 2026, menurun 20% dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar Rp 131,30 triliun.
Sejalan, laba bersih UNTR juga diperkirakan menyusut. UBS mengestimasi laba bersih perseroan hanya mencapai Rp 11,57 triliun pada 2026, turun sekitar 21,9% dibandingkan laba bersih 2025 yang sebesar Rp 14,81 triliun. Dari sisi valuasi, Wafi menilai saham UNTR saat ini sudah berada pada level yang cukup menarik. Menurutnya, saham UNTR diperdagangkan dengan price earning ratio (PER) sekitar 8 kali serta menawarkan dividend yield yang relatif tinggi. Wafi tetap merekomendasikan buy untuk saham UNTR dengan target harga sebesar Rp 28.000 per saham. Igor pun juga memberikan rekomendasi untuk buy saham UNTR dengan target Rp 36.500 per saham. Sementara Arnanto, merekomendasikan investor untuk overweight saham UNTR dengan target harga Rp 29.050. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News