Untung besar dari jualan sapi berbobot



JAKARTA. Menjelang Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban adalah panen raya bagi pedagang sapi. Terutama pedagang sapi kelas premium, yakni sapi-sapi berukuran jumbo yang berbobot di atas 500 kilogram (kg). Sapi-sapi besar ini dari jenis limousin dan simmental.

Sapi premium ini jelas hanya untuk warga yang berkantong tebal. Karyadi, pengelola Bursa Hewan Qurban Haji Doni yang menempati area penjualan di sebuah showroom di Depok, bilang, hanya butuh waktu satu minggu untuk menjual 120 ekor sapi ukuran jumbo ini.

Harga jual sapi itu mencapai Rp 50 juta per ekor. "Kebanyakan pembeli membeli sapi di harga Rp 30 jutaan," kata Karyadi (14/11). Penjualan sapi premium di Bursa Hewan ini terus meningkat tiap Idul Adha. Mereka pun bisa mendulang omzet miliaran rupiah.


Demikian juga dengan rezeki yang diperoleh Taufik Abdat, penjual sapi bongsor di Petamburan, Jakarta Pusat. Dia mengatakan, usaha penjualan sapi premium ini sangat menjanjikan.

Lihat saja, dua hari menjelang Hari Raya Kurban, ia berhasil menjual 20 ekor sapi berbobot kurang lebih 800 kg. Taufik menjual sapi-sapi istimewa di harga Rp 30 jutaan. Sedangkan untuk sapi biasa, berbobot kurang dari 300 kg, dia jual seharga Rp 9,5 juta dengan untung sekitar 10%. Taufik mendapat pasokan sapi bongsor ini dari Ponorogo, Jawa Timur.

Kalau berkaca pada Lebaran Kurban tahun lalu, Taufik bisa menjual hingga 30 ekor sapi jenis limousin maupun simmental. Dia pun bisa meraup omzet ratusan juta rupiah dalam kurun waktu sepekan.

Menurut Taufik, tren penjualan sapi premium ini cenderung naik dari tahun ke tahun. Sayang, suplai sapi ini sangat terbatas. Pasokan yang ada seringkali tidak sesuai persyaratan kurban.

Padahal, bagi kalangan menengah atas, harga sapi bukanlah masalah karena mereka lebih mementingkan kualitas sapi. "Asalkan tertarik dengan penampilan fisik dan bobot, berapa pun harganya pasti dibayar," ujar Taufik.

Dalam bisnis ini pedagang bisa mengambil untung hingga 20% dari harga jual setiap ekor sapi. Namun, untung besar, risiko juga besar. Sapi premium ini pun memakan ongkos perawatan dan keamanan yang juga tak murah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Djumyati P.