Untung besar, HPAM pertahankan saham infrastruktur



Jakarta. Manajer investasi mengoleksi saham-saham sektor infrastruktur seiring digenjotnya mega proyek infrastruktur oleh pemerintah. Salah satunya, PT Henan Putihrai Asset Management (HPAM) yang masuk ke sektor tersebut untuk reksadana HPAM Ultima Ekuitas 1.

"Dari awal tahun kami sudah masuk ke sektor infrastruktur dan penunjangnya," ujar Vice President HPAM Reza Fahmi Riawan, Rabu (10/8).

Reza mengatakan akan mempertahankan strategi tersebut. Dia yakin sektor infrastruktur akan tumbuh ditopang oleh pengesahan Undang-Undang Tax Amnesty.


"Program tax amnesty ujung-ujungnya adalah untuk biaya pembangunan sehingga kami akan tetap konsisten di sektor infrastruktur," ujar Reza.

Menilik fund factsheet Juli 2016, mayoritas aset dasar produk ini ditempatkan pada saham sekitar 99%. Sedangkan sisanya pada efek bersifat utang sekitar 1%.

Produk ini memiliki kebijakan investasi menempatkan minimal 80% hingga 100% pada efek bersifat ekuitas. Kemudian, maksimal 20% pada efek bersifat utang dan maksimal 20% pada instrumen pasar uang.

Berdasarkan alokasi sektor, sebagian besar ditempatkan pada sektor trade dan services sekitar 24%, sektor properti sekitar 16,48%, finance sekitar 16%, consumer goods sekitar 13% dan mining sekitar 11%. Lalu, agribisnis sekitar 8%, sektor miscellaneous industry sekitar 6%, sektor infrastruktur sekitar 5% serta basic industry sekitar 1,25%.

Kepemilikan saham terbesar antara lain pada WSKT, AKRA, dan PWON. Juga, INCO serta BMRI.

Dengan strategi tersebut, reksadana ini mampu membagikan return 25,29% dalam satu tahun terakhir per 15 Agustus 2016. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata return reksadana saham yang sebesar 16,16% pada periode yang sama. Demikian juga dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang berkinerja 16,03%.

"Kami ingin menang dibandingkan IHSG di sepanjang tahun ini," ujar Reza.

Investor bisa mengalokasikan dana Rp 1 juta sebagai minimal investasi awal. Produk ini akan mengutip biaya subscription maksimal 3% dan biaya redemption maksimal 5%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto