KONTAN.CO.ID - LONDON. Laju pertumbuhan upah pekerja di Inggris naik tipis. Office for National Statistics (ONS) Inggris juga mencatat tanda pemulihan di pasar tenaga kerja, meski masih minim.
Reuters memberitakan, ONS mengumumkan, Selasa (20/10/2026), rata-rata pendapatan mingguan pekerja, tidak termasuk bonus, naik 3,7% secara tahunan dalam tiga bulan yang berakhir Agustus. Realisasi melanjutkan tren peningkatan bertahap, setelah pertumbuhan upah sempat menyentuh titik terendah sebesar 3,4% pada awal tahun ini. Realisasi tersebut juga lebih tinggi ketimbang konsensus proyeksi analis, yakni sebesar 3,6%.
Pertumbuhan upah di sektor swasta juga sedikit meningkat, dari 2,9% menjadi 3,0%.
Baca Juga: Kerusuhan Prancis Perburuk Krisis Politik Macron, Marine Le Pen Diuntungkan Menurut data awal, jumlah karyawan terdaftar dalam sistem penggajian dari kantor pajak Inggris menunjukkan peningkatan sebanyak 13.000 orang pada September. Angka untuk Agustus direvisi menjadi naik 1.000 orang, dari estimasi awal yang sempat menunjukkan penurunan sebanyak 26.000 orang. "Data hari ini mengonfirmasi pasar tenaga kerja saat ini sedang berada dalam kondisi stagnan," ujar Jack Kennedy, Ekonom Senior Indeed, situs lowongan kerja, seperti dikutip
Reuters, Selasa (20/10/2026). Namun, Kennedy menambahkan, potensi pemulihan lanjutan yang lebih kuat sangat bergantung pada anggaran dari Menteri Keuangan Inggris John Healey, yang akan diumumkan pekan depan. Pendahulunya, Rachel Reeves, sempat menaikkan pajak bagi pemberi kerja pada tahun 2025, yang kemudian diikuti oleh penurunan dalam aktivitas perekrutan.
Baca Juga: China Kerahkan Militer Pantau Kapal Perang AS di Laut China Selatan "Pertanyaannya adalah, apakah anggaran tersebut akan memberikan alasan bagi para pemberi kerja untuk mulai bergerak maju kembali?" kata Kennedy. Tingkat pengangguran di Inggris turun menjadi 4,7% dalam tiga bulan hingga Agustus, level terendah sejak pertengahan tahun 2025. Tapi data ini diperoleh dari survei yang saat ini sedang ditinjau ulang oleh ONS. Data ketenagakerjaan terbaru ini bisa menjadi salah satu pendorong Bank of England (BOE) untuk menaikkan suku bunga acuan. BOE juga tengah memantau tanda-tanda apakah lonjakan harga energi akibat perang di Iran mulai berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas dalam perekonomian, termasuk melalui tuntutan kenaikan upah. Kendati begitu, tidak semua data ketenagakerjaan yang dirilis positif. Sebagian data menunjukkan beberapa indikasi bahwa pasar tenaga kerja masih lemah.
Baca Juga: Sea Mengkaji Melepas Saham Unit Bisnis di Bursa dan Dirikan Perusahaan AI Jumlah lowongan pekerjaan dalam periode tiga bulan hingga September turun menjadi 691.000 dari 704.000 pada periode tiga bulan hingga Agustus. Ini merupakan kali pertama angka tersebut berada di bawah 700.000 sejak periode tiga bulan hingga April 2021. "Penurunan lowongan pekerjaan yang terus berlanjut merupakan sinyal peringatan keras bagi pasar tenaga kerja. Ini mengindikasikan salah satu dampak sampingan yang merugikan dari pertumbuhan ekonomi yang didorong AI tahun ini adalah melemahnya permintaan tenaga kerja," ujar Suren Thiru, Kepala Ekonom Institute of Chartered Accountants in England and Wales. Para investor memperkirakan BOE akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 4% dalam pertemuan Komite Kebijakan Moneter November. Sejauh ini, BOE belum mengikuti langkah Federal Reserve AS maupun European Central Bank menaikkan biaya pinjaman. Gubernur BOE Andrew Bailey menyatakan pekan lalu, semakin lama perang berlangsung, semakin sulit bagi BOE untuk tidak mengambil tindakan. Namun, ia juga menambahkan bahwa situasi saat ini masih dalam tahap awal dan tekanan inflasi masih tergolong cukup terkendali.