Upaya Dongkrak Produktivitas Lewat Productivity Coach



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Upaya mendorong produktivitas tenaga kerja kembali didorong melalui penguatan kapasitas internal perusahaan. Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) menggandeng Vanaya Institute untuk menjalankan program Coaching for Productivity melalui inisiatif “One Company One Productivity Coach”.

Program ini menargetkan setiap perusahaan memiliki satu productivity coach yang bertugas membantu manajemen memperbaiki sistem kerja serta meningkatkan kinerja organisasi secara berkelanjutan.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, peningkatan produktivitas tidak semata berkaitan dengan kenaikan output, tetapi juga perubahan cara pandang dalam mengelola sumber daya manusia. Menurutnya, produktivitas perlu dimaknai sebagai cara kerja dan budaya organisasi yang menempatkan manusia sebagai pusat proses pembangunan ekonomi.


Ketua Umum GNIK Yunus Triyonggo menilai, upaya peningkatan produktivitas membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha hingga komunitas profesional. “Ia menyebut produktivitas Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia,” katanya dalam siaran pers, Minggu (15/3).

CEO Vanaya Institute Lyra Puspa menambahkan, pendekatan coaching diharapkan dapat membantu organisasi membangun budaya kerja yang lebih produktif dari dalam perusahaan. Menurutnya, pendekatan ini melengkapi upaya peningkatan produktivitas yang selama ini lebih banyak berfokus pada perbaikan proses, produk, maupun kebijakan.

Baca Juga: Staf Wapres Prihatin Penyiraman Air Keras Kepada Andrie Yunus, Janji Diusut Tuntas

Productivity coaching menjadi pendekatan inside-out yang membantu manajer dan tim membangun pola pikir inovatif, growth mindset, serta pola kerja yang lebih efektif dan efisien,” ujarnya.

Program Coaching for Productivity rencananya akan digelar di sedikitnya 10 kota di Indonesia untuk mencetak tenaga productivity coach di berbagai perusahaan. Para pelatih ini diharapkan dapat membantu perusahaan memperbaiki proses kerja, meningkatkan efektivitas kepemimpinan, serta membangun budaya organisasi yang lebih produktif.

Namun efektivitas program semacam ini masih akan sangat bergantung pada komitmen perusahaan dalam menerapkan perubahan nyata di tingkat operasional. Tanpa perbaikan sistem kerja yang konkret, inisiatif pelatihan berisiko hanya menjadi agenda pengembangan sumber daya manusia yang bersifat seremonial.

Baca Juga: Bank Indonesia Diprediksi Mempertahankan BI-Rate di Level 4,75% Pada RDG Maret 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News