Upaya Industri AMDK Tekan Biaya Produksi Ditengah Efisiensi Dampak Perang Timteng



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Biaya produksi air mineral dalam kemasan (AMDK) mengalami kenaikan anggaran buntut dari kondisi geopolitik timur tengah. Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran kian memanas yang menyebabkan sejumlah pasar global terdampak sangat signifikan, salah satunya minyak mentah.

Kemudian, minyak merupakan bahan baku utama dalam produksi kemasan plastik seperti botol atau galon yang digunakan industri AMDK, sementara kemasan plastik merupakan komponen biaya terbesar dalam struktur biaya industri AMDK.

"Saat ini perusahaan-perusahaan AMDK mulai melakukan efisiensi biaya produksi sebagai respons terhadap kenaikan harga bahan baku kemasan," ujar Ketua Umum Perkumpulan Usaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) , Karyanto Wibowo kepada Kontan, Minggu (15/3/2026).


Baca Juga: Penjualan AMDK Bisa Meningkat 45% Usai Biaya Produksi Kena Efisiensi Perang Timteng

Karyanto menyebut bahwa harga minyak saat ini melonjak sekitar 40-60%. Hal itu yang membuat dampak harga jual produk, sehingga harga AMDK tidak kompetitif.

Meski mengalami efisiensi anggaran biaya produksi, industri AMDK mesti melakukan upaya penekanan biaya produknya. Salah satunya yakni melakukan efisiensi kemasan, terutama pengurangan bobot plastik sebagai komponen biaya terbesar tanpa mengurangi kualitas.

Kedua, industri AMDK harus meningkatkan penggunaan bahan recycle plastik yang food grade.

"Efisiensi operasional pabrik, khususnya energi, dan pengurangan limbah dan optimalisasi distribusi dan logistik untuk menekan biaya bahan bakar," ucapnya.

Baca Juga: Tren AMDK Ramadan 2026: Botol Kecil dan Pertumbuhan Positif Industri

Selanjutnya, industri AMDK juga harus mengoptimalisasi biaya iklan atau marketing. 

"Semua komponen bahan baku industri AMDK yang merupakan turunan minyak bumi pasti akan naik dan akan membuat kita melakukan efisiensi produksi, agar tetap kompetitif," kata Karyanto.

Menurut Karyanto, semua bahan baku komponen AMDK diprediksi akan meningkat hingga 35-45% buntut dampak dari efisiensi anggaran tersebut.

Baca Juga: Amdatara Wanti-wanti Potensi Gangguan Distribusi AMDK Jelang Lebaran

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News