KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman (F&B) Indonesia optimistis tetap tumbuh pada 2026 meski menghadapi tekanan biaya produksi, logistik, energi, dan bahan baku. Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) memperkirakan pertumbuhan industri F&B sekitar 7%, didukung oleh kinerja kuartal I yang tumbuh 7,4%. Menurut Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman, kondisi tiap subsektor berbeda. “Ada yang tumbuh bagus, ada yang tumbuh moderat, dan ada juga yang pertumbuhannya kurang baik,” kata Adhi belum lama ini. Namun, industri masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya energi, logistik, serta ketersediaan bahan baku yang dapat mempengaruhi daya saing. Pelaku usaha berharap pemerintah terus memperbaiki regulasi dan mendukung efisiensi industri. Selain itu, dukungan pemerintah seperti penurunan harga gas industri dan relaksasi bea masuk bahan baku plastik dinilai dapat membantu menekan biaya produksi.
Upaya Mendorong Pertumbuhan Bisnis F&B
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman (F&B) Indonesia optimistis tetap tumbuh pada 2026 meski menghadapi tekanan biaya produksi, logistik, energi, dan bahan baku. Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) memperkirakan pertumbuhan industri F&B sekitar 7%, didukung oleh kinerja kuartal I yang tumbuh 7,4%. Menurut Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman, kondisi tiap subsektor berbeda. “Ada yang tumbuh bagus, ada yang tumbuh moderat, dan ada juga yang pertumbuhannya kurang baik,” kata Adhi belum lama ini. Namun, industri masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya energi, logistik, serta ketersediaan bahan baku yang dapat mempengaruhi daya saing. Pelaku usaha berharap pemerintah terus memperbaiki regulasi dan mendukung efisiensi industri. Selain itu, dukungan pemerintah seperti penurunan harga gas industri dan relaksasi bea masuk bahan baku plastik dinilai dapat membantu menekan biaya produksi.