Upaya pemerintah mendatangkan 500.000 wisman ke Mandalika



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah guna menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara datang ke Mandalika. Pemerintah menargetkan wisatawan mancanegara (wisman) datang ke Mandalika atau Lombok tengah sebanyak 500.000 orang pada 2024 mendatang.

Ketua tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Wisata Prioritas Hiramsyah Thaib menyatakan selain menjadikan Mandalika sebagai satu dari lima destinasi super prioritas, pemerintah terus menyiapkan Mandalika sebagai tujuan wisatawan kelas dunia.

“Pemerintah telah menyiapkan upaya 3 A yakni Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas. Atraksi dengan meningkatkan Pusat Ekologi Kupu-Kupu di Taman Wisata Alam Gunung Tunak. Juga lewat Peningkatan Daya Tarik Wisata Budaya Desa Ende berupa Tari Peresean dan Tenun,” ujar Hiramsyah kepada Tim Jelajah Ekonomi Pariwisata Kontan 2019.


Baca Juga: Melihat Mandalika yang siap mendunia lewat sirkuit berpanorama pantai dan bukit

Adapun aksesibilitas dengan pembangunan Paralel Taxiway 1.512m x 44m. September 2019. Juga Pengoperasian Rute Baru Damri di Lombok. Juga oembangunan Dermaga Gilimas 440m x 26m.

Amenitas dengan pembangunan Homepod di Kuta Lombok Tengah, target selesai 31 Agustus 2019 dan Pelatihan Wirausaha Desa Wisata Sekitar KEK Mandalika, Launching Pilot Project, target selesai 30 September 2019.

Adapun hingga 2018 jumlah wisman ke Lombok Tengah sebanyak 70.539 orang mengalami pertumbuhan 150% sejak 2015 lalu. Adapun wisatawan nusantara sebanyak 83.176 jiwa mengunjungi Lombok Tengah. Jumlah ini tumbuh 154% dibandingkan kunjungan pada 2015.

Baca Juga: Ada MotoGP, PUPR akan bedah 240 rumah di Lombok Tenagh

Hiramsyah menyatakan lewat lonjakan kunjungan wisatawan ini akan berdampak pada perekonomian Nusa Tenggara Barat. Ia bilang berdasarkan pengalaman Kemenpar, biasanya terjadi lompatan pendapatan asli daerah (PAD) dari 80% hingga 300%.

“Jadi kita yakin akan ada lompatan pertumbuhan ekonomi mulai terutama PAD yang artinya hal itu akan dirasakan oleh lapisan masyarakat paling bawah. Bisa saja terjadi pergeseran profesi misal dari yang tadinya nelayan atau petani jadi pengusaha atau pekerja di sektor pariwisata. Kalau pun terjadi sifatnya positif,” jelas Hiramsyah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto