UPDATE-Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi Sepekan di Tengah Memanasnya Konflik Teluk



KONTAN.CO.ID - Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam satu pekan pada perdagangan Kamis (28/5/2026) setelah meningkatnya serangan udara antara Iran dan Amerika Serikat (AS) meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai.

Di saat yang sama, yen Jepang melemah mendekati level yang sebelumnya memicu intervensi bank sentral Jepang bulan lalu.

Baca Juga: JSR Dikabarkan Masuk Radar Akuisisi Fujifilm dan Mitsubishi Chemical


Garda Revolusi Iran pada Kamis menyatakan pihaknya menargetkan sebuah pangkalan udara milik AS setelah militer Amerika melakukan serangan yang disebut pejabat Washington ditujukan pada operasi drone Iran di dekat Selat Hormuz.

Ketegangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump membantah laporan yang menyebut dirinya hampir mencapai kompromi dengan Teheran.

Harga minyak kembali menguat, sementara dolar AS sebagai aset safe haven tetap stabil seiring memudarnya harapan penyelesaian cepat konflik.

Investor kini semakin yakin dolar berpotensi terus menguat karena Federal Reserve diperkirakan akan lebih fokus menekan inflasi di tengah tingginya harga energi.

“Situasi di Timur Tengah masih sangat rapuh dan penuh ketidakpastian,” ujar Aidan Yao, Senior Investment Strategist Asia di Amundi Investment Institute.

Baca Juga: Krisis Bahan Bakar Mendorong Kamboja Manfaatkan Sumber Daya Energi US$ 300 Miliar

Ia menambahkan masih banyak ketidakjelasan mengenai sejauh mana perkembangan menuju potensi kesepakatan damai.

Amundi memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran rata-rata 100 dolar AS per barel sepanjang kuartal kedua.

Di pasar mata uang, euro turun 0,2% ke level US$1,1601, sementara pound sterling melemah hampir 0,3% menjadi US$1,3387.

Dolar Australia yang sensitif terhadap sentimen risiko melemah 0,3% ke US$0,7120, level terendah dalam sepekan. Sementara dolar Selandia Baru turun 0,4% menjadi US$0,5876.

Melansir Reuters, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,13% ke level 99,426, mendekati posisi tertinggi sejak 21 Mei.

Baca Juga: Pertahanan Udara Kuwait Cegat Ancaman Rudal dan Drone Musuh

Aset kripto juga tertekan akibat memburuknya sentimen risiko pasar. Bitcoin tercatat turun 3% ke level US$72.878,72, sedangkan Ether melemah 4,2% menjadi US$1.974,68.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi favorit Federal Reserve, yakni core PCE deflator, yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Sementara itu, yen Jepang sempat melemah hingga 159,610 per dolar AS, level terendah sejak 30 April dan semakin dekat ke area 160 yang sebelumnya memicu intervensi otoritas Jepang bulan lalu.

Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan, intervensi tersebut memang memberi ruang bernapas bagi pembuat kebijakan, namun efektivitas jangka panjangnya masih dipertanyakan.

Baca Juga: Pasar Tenaga Kerja AS Sangat Tangguh, The Fed Fokus Kendalikan Inflasi

“Pertanyaan besarnya adalah apakah intervensi itu sepadan jika hanya memberikan kelegaan selama satu bulan. Selain itu, apakah otoritas Jepang siap kembali menggelontorkan dana besar jika level 160 kembali ditembus dalam beberapa sesi mendatang,” ujarnya.

Berdasarkan data LSEG, pasar kini memperkirakan sekitar 70% peluang Bank of Japan akan menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin pada rapat kebijakan 15–16 Juni mendatang.