UPDATE-Dolar Menuju Pelemahan Mingguan, Pasar Sambut Positif Negosiasi AS-Iran



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) cenderung stabil terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Jumat (29/5/2026), namun masih berada di jalur pelemahan mingguan.

Sentimen pasar dipengaruhi kabar bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Pejabat The Fed Peringatkan Lonjakan Harga Energi Tak Bisa Dianggap Sementara


Empat sumber Reuters menyebutkan, kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump.

Jika disahkan, gencatan senjata akan diperpanjang selama 60 hari dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali dibuka sambil negosiator membahas isu-isu sensitif seperti program nuklir Iran.

Dolar AS sempat menguat pada awal konflik karena statusnya sebagai aset safe haven serta minimnya ketergantungan AS terhadap impor energi.

Namun, meredanya tensi geopolitik membuat permintaan terhadap dolar mulai berkurang.

Baca Juga: Dari Pantai Rio ke Piala Dunia, Altinha Jadi Simbol Budaya Sepak Bola Brasil

Melansir Reuters, Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama diperdagangkan di sekitar level 99.

Indeks tersebut turun 0,2% pada Kamis dan tercatat melemah sekitar 0,3% sepanjang pekan ini, menghentikan tren penguatan selama dua pekan sebelumnya.

“Dalam jangka pendek, dolar kemungkinan akan melemah,” ujar analis senior Danske Bank, Kirstine Kundby-Nielsen.

Meski demikian, ia menilai dalam jangka panjang dolar masih berpotensi menguat terhadap euro didukung prospek pertumbuhan ekonomi AS yang lebih baik, kebijakan fiskal ekspansif, tekanan inflasi terkait AI, serta pasar tenaga kerja AS yang tetap solid.

Euro tercatat stabil di level US$ 1,1643, sementara poundsterling melemah 0,2% ke posisi US$ 1,3418 setelah Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengisyaratkan tidak perlu menaikkan suku bunga secara agresif untuk mengendalikan lonjakan inflasi.

Baca Juga: Kinerja SCG Melonjak di Kuartal I-2026, Penjualan di Indonesia Naik 16%

Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia bergerak stabil di US$ 0,7160. Sementara dolar Selandia Baru naik 0,5% ke level US$ 0,5968, tertinggi dalam lebih dari dua pekan, setelah bank sentral negara tersebut memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.

Sementara itu, yen Jepang diperdagangkan di level 159,30 per dolar AS dan masih mendekati ambang psikologis 160 yen per dolar yang sebelumnya memicu intervensi otoritas Jepang.

Kementerian Keuangan Jepang pada Jumat mengungkapkan bahwa pemerintah telah menggelontorkan 11,7 triliun yen atau sekitar US$ 73,5 miliar untuk intervensi pasar valuta asing selama sebulan terakhir demi menopang yen.

Data ekonomi Jepang juga menunjukkan inflasi inti di Tokyo tetap berada di bawah target 2% Bank of Japan (BOJ) selama empat bulan berturut-turut pada Mei. Meski demikian, aktivitas manufaktur Jepang tercatat rebound pada April.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil Seiring Pasar Menunggu Kepastian Damai AS-Iran

Strategis mata uang Commonwealth Bank of Australia Samara Hammoud menilai, data inflasi tersebut belum cukup untuk menghalangi BOJ menaikkan suku bunga pada Juni mendatang.

“Ekspektasi inflasi yang tinggi dan pasar tenaga kerja yang ketat masih mendukung normalisasi kebijakan moneter Jepang,” ujarnya.