KONTAN.CO.ID - Harga emas menguat untuk sesi ketiga berturut-turut pada Kamis (7/5), didukung meningkatnya optimisme terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meredakan kekhawatiran inflasi serta prospek suku bunga tinggi dalam jangka lebih lama. Melansir
Reuters, harga emas spot naik sekitar 1% menjadi US$4.733,59 per ons troi pada pukul 11:50 waktu setempat (15:50 GMT), setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan. Kontrak emas berjangka AS juga naik 1,1% ke US$4.744,00 per ns troi.
Baca Juga: UPDATE - Harga Minyak Dunia Turun 3% Kamis (7/5), Brent Kembali di Bawah US$100 “Jika gencatan senjata bertahan dan kita bisa menutup konflik ini, serta Selat Hormuz kembali terbuka, saya melihat emas bisa bergerak menuju US$5.000 per ons troi,” ujar Bob Haberkorn, Senior Market Strategist RJO Futures. Ia menambahkan bahwa pasar saat ini masih sangat fokus pada perkembangan geopolitik Timur Tengah serta arah kebijakan Federal Reserve AS. Negosiasi antara AS dan Iran disebut semakin mendekati kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik, meski sejumlah isu utama masih belum terselesaikan. Proposal tersebut disebut bersifat interim dan belum mencakup kesepakatan komprehensif. Di pasar energi, harga minyak terus melemah di tengah harapan bahwa kesepakatan dapat membuka kembali jalur pengiriman melalui Selat Hormuz, yang pada gilirannya menurunkan tekanan inflasi global.
Baca Juga: AS–Iran Dekati Kesepakatan Jangka Pendek, Fokus Stabilkan Selat Hormuz Kenaikan harga energi umumnya mendorong inflasi lebih tinggi, sehingga membatasi ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga. Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas cenderung kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil (yield), meski tetap berfungsi sebagai lindung nilai inflasi. TD Securities menilai, terdapat potensi kenaikan emas hingga di atas US$5.200 per ounce apabila tekanan inflasi dari energi mereda dan The Fed mulai beralih fokus ke mandat ketenagakerjaan. “Pivot The Fed menuju maksimum
employment, imbal hasil lebih rendah, serta pelemahan dolar AS dapat kembali memicu tren bullish emas, ditambah permintaan investor dan bank sentral,” tulis TD Securities. Pelaku pasar kini menantikan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat, untuk mengukur arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Di sisi lain, data menunjukkan bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya selama 18 bulan berturut-turut pada April, mencerminkan kuatnya permintaan institusional terhadap logam mulia tersebut.
Baca Juga: Continental Capai Kesepakatan PHK Sukarela 1.600 Pekerja di Jerman Pergerakan logam mulia lain Di pasar logam lainnya, perak spot melonjak 4,5% ke US$80,82 per ons troi, menyentuh level tertinggi sejak 17 April. Sementara itu, platinum turun 0,6% ke US$2.047,79 per ons troi dan palladium melemah 1,5% ke US$1.514,08 per ons troi.