KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026) seiring kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS). Melansir
Reuters, harga emas spot turun 0,8% ke level US$ 4.508,04 per ons troi pada pukul 11.47 waktu setempat, setelah sebelumnya sempat merosot hingga 1%.
Baca Juga: The Fed Bahas Perpanjangan Jalur Swap Dolar Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni turun 0,6% menjadi US$ 4.509,40 per ons troi. Padahal sehari sebelumnya harga emas sempat melonjak lebih dari 1% pada sesi perdagangan AS setelah menyentuh level terendah sejak 30 Maret. Ketegangan Iran-AS Angkat Harga Minyak Kenaikan harga minyak dipicu laporan
Reuters yang menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memerintahkan agar uranium Iran yang hampir mencapai tingkat senjata nuklir tidak dikirim ke luar negeri. Kebijakan tersebut dinilai dapat memperumit negosiasi damai antara Iran dan AS terkait perang Iran-Israel-AS yang berlangsung sejak Februari 2026. Harga minyak dunia pun melonjak lebih dari 2% karena pasar khawatir konflik berkepanjangan akan terus mengganggu pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: OPEC+ Bersiap Tambah Produksi 188.000 Barel per Hari pada Juli 2026 Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan pasar kini kembali fokus pada ketidakpastian negosiasi Iran-AS dan dampaknya terhadap harga energi global. "Ketidakpastian apakah kesepakatan bisa tercapai membuat harga minyak terus memberi tekanan terhadap emas," ujar Staunovo. Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS Menguat Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi global semakin tinggi. Kondisi tersebut membuat pasar mulai memperkirakan The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini melihat peluang sebesar 58% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin tahun ini. Sehari sebelumnya probabilitas itu masih sebesar 48%.
Baca Juga: Google, Meta, dan TikTok Digugat Uni Eropa terkait Iklan Penipuan Finansial Penguatan ekspektasi suku bunga turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan indeks dolar AS. Kenaikan dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sementara kenaikan yield obligasi meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Emas Kehilangan Daya Tarik Staunovo menambahkan, kenaikan harga minyak yang memicu inflasi justru menjadi sentimen negatif bagi emas dalam jangka pendek. "Meningkatnya harga minyak yang mendorong inflasi membuat bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya. Itu menjadi hambatan bagi emas dalam waktu dekat," katanya.
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Turun, Pasar Tenaga Kerja Tetap Solid Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia tersebut biasanya tertekan ketika suku bunga berada di level tinggi. Sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari lalu, harga emas tercatat telah turun lebih dari 15%. Selain emas, harga logam mulia lainnya juga melemah. Harga perak spot turun 0,8% menjadi US$ 75,39 per ons troi, platinum turun 0,3% ke US$ 1.945,28, dan palladium melemah 0,4% menjadi US$ 1.374,74 per ons troi.