KONTAN.CO.ID - Harga emas melemah pada perdagangan Kamis (9/7/20206), bertahan di dekat level terendah dalam sepekan yang dicapai pada sesi sebelumnya. Penurunan dipicu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak serta memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Baca Juga: Prancis vs Maroko: Laga Penuh Sejarah di Perempat Final Piala Dunia 2026 Mengutip
Reuters, harga emas spot turun 0,4% menjadi US$ 4.060,46 per ons troi pada pukul 03.43 GMT, setelah pada Rabu (8/7) menyentuh level terendah sejak 1 Juli. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun 0,3% menjadi US$ 4.069,80 per ons troi. Pelemahan harga emas terjadi setelah militer AS melancarkan serangan baru ke Iran guna menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka. Serangan tersebut memicu aksi balasan Iran yang menargetkan pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, sehingga meningkatkan ketegangan di kawasan dan menghambat upaya mengakhiri konflik.
Baca Juga: IHW 2026 Jadi Ajang Perluas Investasi dan Kolaborasi Sektor Kesehatan Di saat yang sama, harga minyak melanjutkan penguatannya pada perdagangan Kamis. Analis Pasar Senior OANDA Kelvin Wong mengatakan, pelemahan emas dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed). "Faktor yang mendorong tren penurunan harga emas saat ini adalah pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed kedua yang dapat terjadi paling cepat pada kuartal I tahun depan," ujar Wong. Ia menambahkan, kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran kini berada dalam posisi yang rapuh setelah eskalasi terbaru, sehingga kondisi pasar masih berpotensi berubah dengan cepat.
Baca Juga: Saham Luxshare Anjlok pada Debut IPO Terbesar Hong Kong Tahun Ini Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 68% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September. Selain itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Januari 2027 mencapai 87%. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan lalu juga menunjukkan meningkatnya kekhawatiran para pejabat bank sentral AS terhadap inflasi. Sejumlah pejabat menilai tekanan harga semakin meluas sehingga berpotensi memerlukan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Meski emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil tersebut cenderung tertekan ketika suku bunga berada pada level tinggi.
Baca Juga: Paramount Tunda Akuisisi Warner Bros hingga Setelah 22 Juli Sementara itu, Bank of America memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 sebesar 14% menjadi US$ 4.360 per ons troi karena memperkirakan sikap The Fed akan lebih agresif (
hawkish). Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,9% menjadi US$ 57,77 per ons troi. Sebaliknya, platinum naik 0,8% menjadi US$ 1.591,13 per ons troi dan paladium menguat 0,8% menjadi US$ 1.223,95 per ons troi.