KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia anjlok ke level terendah dalam tiga bulan pada perdagangan Senin (15/6/2026), setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Berdasarkan data
Reuters, harga minyak Brent turun US$ 4,16 atau 4,8% menjadi US$ 83,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi US$ 4,39 atau 5,2% ke level US$ 80,49 per barel.
Baca Juga: Saham SpaceX Terbang Lagi, Valuasi Tembus US$ 2 Triliun Pasca IPO Kedua kontrak tersebut sempat menyentuh level terendah sejak 10 Maret 2026 setelah sebelumnya juga merosot lebih dari 3% pada akhir pekan lalu. Kesepakatan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan telah mencapai kerangka awal perdamaian yang membuka jalan bagi berakhirnya konflik di kawasan Timur Tengah. Perdana Menteri Pakistan, yang berperan sebagai mediator, mengatakan AS dan Iran dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Swiss pada Jumat mendatang. Trump juga menyampaikan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka tanpa hambatan dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan diakhiri.
Baca Juga: Bedah Lengkap Klausul Damai AS-Iran: Dari Masa Depan Nuklir hingga Nasib Selat Hormuz Media Iran Mehr News Agency melaporkan, rancangan kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari melalui pengaturan yang dilakukan Iran. Selama lebih dari tiga bulan terakhir, penutupan Selat Hormuz telah mengganggu pasokan jutaan barel minyak dan gas dunia. Jalur tersebut merupakan rute strategis bagi sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Meski pasar merespons positif prospek normalisasi pasokan, sejumlah analis menilai pemulihan lalu lintas pelayaran dan produksi minyak tidak akan berlangsung secara instan. Analis PVM Oil Associates Tamas Varga memperkirakan diperlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sebelum volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali ke tingkat sebelum konflik. "Investor saat ini pada dasarnya memperhitungkan pasokan masa depan ke dalam harga saat ini. Namun proses pemulihan yang lambat berpotensi membuat pasar tetap mengalami defisit pasokan sepanjang 2026," ujarnya.
Baca Juga: Inggris Umumkan Larangan Total Media Sosial bagi Anak di Bawah Usia 16 Tahun Pandangan serupa disampaikan analis Saxo Bank Ole Hansen. Menurutnya, meskipun harga minyak terkoreksi tajam, level dasar (
price floor) minyak kemungkinan kini lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik. Sebelum perang, harga Brent bergerak di kisaran US$ 60-US$ 70 per barel. Namun ke depan, Hansen memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran US$ 75-US$ 80 per barel karena masih terdapat risiko gangguan pasokan. Analis UBS Giovanni Staunovo menambahkan bahwa rendahnya persediaan minyak global, proses pemulihan produksi yang bertahap, serta kebutuhan pengisian kembali cadangan strategis minyak akan menjadi faktor penopang harga dalam jangka panjang. Di sisi lain, pasar juga masih mencermati sejumlah isu yang belum terselesaikan dalam kesepakatan awal tersebut, termasuk program nuklir Iran dan situasi keamanan di kawasan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan, pembahasan mengenai isu-isu yang lebih kompleks akan dilakukan dalam masa gencatan senjata selama 60 hari.
Baca Juga: SpaceX Diprediksi Lanjut Menguat Setelah IPO Pecahkan Rekor di Wall Street Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan militer Israel akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza untuk menjaga keamanan perbatasan. Analis ICIS David Jorbenaze memperkirakan, pemulihan sebagian lalu lintas pelayaran dapat terjadi dalam beberapa pekan setelah kesepakatan yang kredibel tercapai. Namun, normalisasi penuh aktivitas perdagangan dan pengiriman minyak kemungkinan baru akan tercapai dalam empat hingga enam bulan. "Volume lalu lintas seperti sebelum konflik secara realistis baru bisa kembali pada 2027, itu pun jika kesepakatan berjalan lancar dan produksi pulih sesuai harapan," katanya.