UPDATE - Harga Minyak Dunia Naik ke Atas US$ 105 per Barel Selasa (12/5)



KONTAN.CO.ID - Harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memudar setelah Presiden AS Donald Trump menyebut proposal terbaru dari Teheran sebagai “sampah”.

Kondisi ini membuat pasar semakin khawatir terhadap gangguan pasokan energi global dan mendorong harga minyak dunia naik pada perdagangan Selasa (12/5/2026).

Baca Juga: Rupee India Ambles ke Rekor Terendah, Tertekan Lonjakan Harga Minyak


Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 86 sen atau 0,8% menjadi US$ 105,07 per barel.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 99 sen atau 1% ke level US$ 99,06 per barel pada pukul 04.11 GMT.

Kenaikan harga minyak terjadi karena pembicaraan untuk mengakhiri konflik antara AS, Israel, dan Iran dinilai masih jauh dari titik temu.

Trump pada Senin (11/5/2026) mengatakan gencatan senjata dengan Iran kini berada dalam kondisi “on life support” atau di ambang kegagalan.

Trump mengaku kecewa dengan respons Iran terhadap proposal perdamaian dari Washington.

Baca Juga: China-AS Berpotensi Capai Kesepakatan Pertanian, Fokus pada Jagung dan Daging

Menurutnya, Iran tetap bersikeras mengajukan sejumlah tuntutan, seperti penghentian konflik di seluruh kawasan, pencabutan blokade laut AS, pemulihan ekspor minyak Iran, hingga kompensasi kerusakan akibat perang.

“Saya menyebutnya sebagai respons terburuk setelah membaca dokumen sampah yang mereka kirimkan. Saya bahkan tidak menyelesaikan membacanya,” kata Trump kepada wartawan.

Iran juga kembali menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Ketidakpastian negosiasi damai membuat pasar khawatir terhadap risiko terganggunya pasokan energi global.

Tim analis sektor energi DBS Bank Suvro Sarkar mengatakan, optimisme pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai mulai memudar.

“Jika tidak ada kesepakatan hingga akhir Mei, maka risiko kenaikan harga minyak akan semakin besar,” ujarnya.

Gangguan distribusi akibat terbatasnya aktivitas di Selat Hormuz telah memaksa sejumlah produsen memangkas ekspor minyak.

Baca Juga: Trump Boyong Bos-Bos Perusahaan Raksasa AS ke China, Siapa Saja?

Survei Reuters juga menunjukkan produksi minyak OPEC pada April turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.

Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer menilai, tercapainya kesepakatan damai dapat memicu koreksi harga minyak sebesar US$ 8 hingga US$ 12 per barel.

Namun, jika konflik kembali meningkat atau ancaman blokade Selat Hormuz berlanjut, harga Brent berpotensi melonjak ke atas US$ 115 per barel.

Di sisi lain, CEO Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan bahwa gangguan ekspor minyak melalui Selat Hormuz dapat menunda pemulihan stabilitas pasar energi global hingga 2027.

Pasar juga menanti pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada Rabu (13/5/2026). Pertemuan tersebut berlangsung setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap tiga individu dan sembilan perusahaan yang dituduh membantu pengiriman minyak Iran ke China.