UPDATE: Harga Minyak Dunia Naik Lagi Senin (29/6), Brent ke US$ 72,44



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin (29/6/2026) setelah aksi saling serang terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Ketegangan tersebut juga memperlambat pengiriman energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.

Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Fluktuatif di Tengah Meredanya Ketegangan AS-Iran


Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 45 sen atau 0,6% menjadi US$ 72,44 per barel pada pukul 06.27 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 82 sen atau 1,2% ke level US$ 70,05 per barel.

Analis ING menilai pasar minyak masih menghadapi berbagai risiko meski sebagian pelaku pasar mulai berfokus pada prospek pemulihan arus pasokan minyak dari kawasan Teluk.

"Masih banyak risiko yang membayangi pasar minyak. Namun, pelaku pasar tampaknya lebih fokus pada dampak pemulihan aliran minyak terhadap keseimbangan pasokan global," tulis analis ING dalam risetnya.

Menurut ING, optimisme tersebut justru terlihat terlalu dini dan membuka peluang kenaikan harga minyak yang lebih besar apabila pemulihan pasokan berlangsung lebih lambat dari perkiraan.

Baca Juga: Kanada Kucurkan Dana C$7 Juta untuk Proyek Tambang Molibdenum di Greenland

Pada pekan lalu, harga Brent merosot 10,6%, menandai penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Penurunan itu dipicu meningkatnya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz ke level tertinggi sejak pecahnya konflik AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari.

Namun, arus pelayaran kembali melambat setelah terjadi serangan baru terhadap sejumlah kapal di Selat Hormuz sejak Kamis lalu, termasuk terhadap sebuah kapal tanker yang terkait dengan Qatar.

Insiden tersebut memicu aksi balasan dari AS dan Iran, menjadi eskalasi terbesar sejak kedua negara menyepakati perjanjian damai sementara.

Meski demikian, kenaikan harga minyak masih tertahan setelah seorang pejabat AS pada Minggu menyatakan Washington dan Teheran telah sepakat menghentikan sementara permusuhan di kawasan Teluk dan kembali melanjutkan perundingan terkait sengketa di Selat Hormuz.

Baca Juga: Serangan Siber Iran Terhadap Israel Melonjak Tiga Kali Lipat Sejak Konflik Memanas

Analis ANZ memperkirakan pasar akan kembali mengevaluasi asumsi bahwa pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia dapat pulih dengan cepat.

"Pasar kemungkinan akan menilai ulang asumsi mengenai cepatnya pemulihan pasokan minyak dari Teluk Persia," tulis ANZ dalam laporannya.

Di sisi lain, perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, kembali memuat minyak mentah di terminal Ras Tanura yang berada di sebelah barat Selat Hormuz sejak Jumat lalu.

Aktivitas tersebut sebelumnya sempat terhenti selama hampir empat bulan, seiring peningkatan produksi dan ekspor minyak menjelang tercapainya kesepakatan damai sementara.

Proses pemuatan minyak tetap berlangsung meski sebuah helikopter milik Aramco jatuh di Ras Tanura pada Minggu dan menewaskan 14 orang. Hingga kini, penyebab kecelakaan tersebut masih dalam penyelidikan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Memanasnya Kembali Konflik AS-Iran

ANZ menilai pemulihan pasokan minyak belum akan berlangsung cepat karena masih terkendala antrean kapal tanker, kerusakan infrastruktur, serta penghentian produksi di sejumlah fasilitas.

"Arus pasokan fisik masih dibatasi oleh antrean kapal tanker, kerusakan infrastruktur, dan penghentian produksi. Dibutuhkan waktu hingga sisa tahun ini agar pasokan kembali mendekati level sebelum konflik," tulis ANZ.