KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia turun sekitar 3% pada perdagangan Kamis (7/5/2026), meski sempat berfluktuasi tajam, di tengah meningkatnya optimisme terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dapat membuka kembali jalur perdagangan melalui Selat Hormuz. Melansir
Reuters, kontrak berjangka Brent turun US$3,21 atau 3,17% menjadi US$98,06 per barel pada pukul 11:21 waktu setempat (15:21 GMT). Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) turun US$3,15 atau 3,31% ke level US$91,93 per barel.
Baca Juga: AS–Iran Dekati Kesepakatan Jangka Pendek, Fokus Stabilkan Selat Hormuz Perdagangan berlangsung volatil, dengan harga sempat bergerak dalam rentang naik 1% hingga turun 5,5% dari penutupan sebelumnya. Sehari sebelumnya, kedua acuan minyak tersebut juga anjlok lebih dari 7% ke level terendah dalam dua pekan. Tekanan harga dipicu ekspektasi pasar bahwa AS dan Iran semakin dekat pada kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik, meski masih menyisakan sejumlah isu krusial yang belum terselesaikan. Sejumlah laporan media regional juga menyebut adanya kesepahaman awal terkait pelonggaran blokade serta potensi pembukaan bertahap Selat Hormuz.
Baca Juga: Continental Capai Kesepakatan PHK Sukarela 1.600 Pekerja di Jerman Namun, Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Analis RBC Helima Croft menyatakan, pasar masih bersikap skeptis terhadap kemungkinan pembukaan kembali jalur tersebut secara cepat. “Masih belum jelas apakah benar ada kemajuan material menuju pembukaan Selat Hormuz, atau justru kita berada dalam fase ‘gencatan senjata tanpa minyak’,” ujarnya dalam catatan riset. Sementara itu, analis SEB Research Ole Hvalbye menilai jika kesepakatan benar-benar tercapai, harga Brent berpotensi kembali ke kisaran US$80–US$90 per barel. Namun, kegagalan negosiasi atau eskalasi militer dapat mendorong harga kembali melonjak di atas US$120 per barel.
Baca Juga: S&P 500 dan Nasdaq Dekati Rekor Kamis (7/5), Harga Minyak Turun Jadi Sentimen Positif Di sisi lain, meskipun adanya memorandum sementara dapat menurunkan premi risiko di pasar berjangka, dampaknya terhadap pasar fisik dinilai terbatas dalam jangka pendek. Normalisasi pasar disebut membutuhkan waktu beberapa minggu hingga bulan. Dari sisi pasokan, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan Iran telah memangkas produksi minyak sekitar 400.000 barel per hari dan berpotensi menurunkannya lebih lanjut seiring kapasitas penyimpanan yang semakin penuh. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz juga meningkat setelah sebuah kapal tanker produk minyak berbendera China dilaporkan diserang pada awal pekan ini, menurut media Caixin. Insiden tersebut menjadi salah satu serangan pertama terhadap kapal minyak milik China di kawasan tersebut.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak China untuk meningkatkan peran diplomatiknya dalam mendorong Iran membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
Baca Juga: Pasar Tenaga Kerja AS Masih Kuat Meski Ada Gelombang PHK Sektor Teknologi Hal ini juga disebut akan dibahas dalam pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan depan. Dampak konflik Iran–AS juga menjadi sorotan dalam pertemuan ASEAN, dengan negara-negara Asia Tenggara yang sangat bergantung pada impor energi menyerukan penurunan eskalasi dan dimulainya kembali negosiasi damai.