UPDATE-Harga Minyak Dunia Turun Senin (22/6): Brent ke US$79,11 & WTI ke US$76,84



KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (22/6/2026), setelah Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menyampaikan bahwa terdapat kemajuan dalam perundingan dengan Iran, serta menyebut bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran.

Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang selama beberapa pekan terakhir menjadi salah satu faktor utama penggerak harga energi global.

Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, 3 Warga Prancis Meninggal


Brent dan WTI Terkoreksi

Harga minyak Brent tercatat turun US$1,46 atau 1,8% menjadi US$79,11 per barel pada pukul 11.27 GMT.

Sebelumnya, harga sempat melonjak hingga US$82,30 per barel di awal perdagangan akibat kekhawatiran eskalasi konflik dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di level US$76,84 per barel, naik tipis 24 sen menjelang kedaluwarsa kontrak.

Namun kontrak WTI yang lebih aktif untuk pengiriman Agustus justru turun 0,8% atau 57 sen menjadi US$75,28 per barel.

Baca Juga: Keir Starmer Mundur, King of the North Andy Burnham Incar Kursi PM Inggris

Negosiasi AS-Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan

Penurunan harga minyak juga dipicu oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi yang menyebut Teheran telah memperoleh sejumlah konsesi, termasuk kelonggaran ekspor minyak dan petrokimia, pelepasan sebagian aset yang dibekukan, serta rencana rekonstruksi ekonomi Iran.

Menurut analis UBS Giovanni Staunovo, Iran telah kembali menyalurkan ekspor minyaknya yang sebelumnya sempat terganggu akibat blokade militer AS.

Tambahan pasokan ini dinilai menambah tekanan terhadap harga minyak global.

“Pelepasan barrel tersebut merupakan tambahan pasokan untuk pasar,” ujarnya.

Baca Juga: Mantan Ketua The Fed Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun

Pemulihan Pasokan Masih Tidak Stabil

Di sisi lain, data menunjukkan lebih dari 25 juta barel minyak Iran telah melewati jalur blokade dalam sepekan terakhir.

Negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak juga meningkatkan pasokan ke pasar global.

Irak sendiri berencana memulihkan produksi minyak secara bertahap hingga 4,2–4,3 juta barel per hari. Namun, pemulihan penuh pasokan masih dinilai menantang.

ANZ memperkirakan sekitar 2–3 juta barel per hari dapat kembali dalam empat minggu pertama, sementara pemulihan lanjutan bergantung pada stabilitas kawasan.

Sebagian kapasitas produksi bahkan dinilai berisiko hilang secara permanen atau semi permanen.

“Pemulihan awal akan didorong oleh logistik (pengiriman), bukan produksi. Pemulihan penuh tidak mungkin terjadi tahun ini,” tulis ANZ dalam catatannya.

Baca Juga: Efek PM Starmer Resign: Saham Inggris Merah, Investor Waspada

Ketegangan Regional Masih Berlanjut

Meski harga minyak melemah, ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda. Serangan udara Israel di Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 orang, sehari setelah gencatan senjata dengan kelompok Hezbollah mulai berlaku.

Situasi ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang dapat kembali memicu volatilitas harga minyak global.