KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menguat tipis pada perdagangan Jumat (16/1/2026) seiring pelaku pasar terus mencermati potensi risiko gangguan pasokan global, meski peluang terjadinya serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran dinilai mulai mereda. Melansir
Reuters, harga minyak Brent naik 5 sen atau 0,1% menjadi US$63,81 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 8 sen atau 0,1% ke level US$59,27 per barel pada pukul 07.49 GMT. Sepanjang pekan ini, harga Brent dan WTI sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, didorong oleh pecahnya aksi protes di Iran serta sinyal dari Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan serangan ke negara tersebut.
Baca Juga: Serangan Rusia Hancurkan Fasilitas Energi Kharkiv, Krisis Listrik Ukraina Kian Parah Brent bahkan masih berada di jalur penguatan untuk pekan keempat berturut-turut. Analis BMI menyebut potensi gejolak politik di Iran berpeluang meningkatkan volatilitas harga minyak karena pasar mencerna risiko gangguan pasokan. “Harga minyak kemungkinan akan lebih berfluktuasi seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik,” tulis BMI dalam catatannya kepada klien. Namun, sentimen pasar sedikit mereda setelah Trump pada Kamis malam menyatakan bahwa penindakan aparat Iran terhadap para pengunjuk rasa mulai melonggar. Pernyataan ini menurunkan kekhawatiran akan kemungkinan aksi militer yang dapat mengganggu pasokan minyak.
Baca Juga: Aturan Berlaku Efektif 19 Januari, Bank of Japan Akan Mulai Menjual Aset ETF dan REIT Meski demikian, analis IG menilai risiko terkait pasokan minyak Iran masih tetap signifikan dalam jangka pendek. “Risiko memang agak mereda, tetapi masih cukup besar sehingga membuat pasar tetap waspada,” tulis IG dalam risetnya. Setiap eskalasi konflik dengan Iran juga berpotensi memicu kekhawatiran gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari. Di sisi lain, para analis tetap bersikap cenderung bearish terhadap prospek pasokan minyak dalam jangka menengah, meskipun sebelumnya OPEC memperkirakan pasar akan berada dalam kondisi seimbang. “Sentimen memang menjadi penggerak pasar saat ini, tetapi dampak berita geopolitik biasanya bersifat sementara, terutama ketika fundamental pasokan masih relatif longgar,” ujar analis senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.
Baca Juga: Ancaman Won Melemah, Seoul Menahan Investasi US$ 350 Miliar di AS Ia menambahkan, selama tidak ada lonjakan signifikan permintaan dari China atau hambatan nyata pada aliran fisik minyak, harga Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran US$57–US$67 per barel. OPEC pada Rabu lalu menyatakan pasokan dan permintaan minyak global diperkirakan tetap seimbang pada 2026, dengan pertumbuhan permintaan pada 2027 diproyeksikan sejalan dengan tahun ini.
Ke depan, pergerakan harga minyak dalam jangka pendek diperkirakan masih akan dipengaruhi faktor geopolitik dan makroekonomi. Analis senior OANDA Kelvin Wong menyebut situasi di Iran serta rilis data ekonomi China pekan depan akan menjadi penggerak utama pasar. Ia memperkirakan harga WTI bergerak sideways di kisaran US$55,75–US$63 per barel dalam waktu dekat.