UPDATE Kamis (3/9): Harga Emas Lompat 1%, Ada Sinyal Bisa Tembus US$ 4.700



KONTAN.CO.ID - Harga emas kembali menguat pada perdagangan Kamis (3/9/2026), didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penurunan imbal hasil US Treasury.

Investor kini menanti rilis data nonfarm payrolls (NFP) AS yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Reuters, harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.434,70 per ons troi pada pukul 04.25 GMT. Pada perdagangan sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam hampir satu bulan.


Baca Juga: Investor Jepang Jual Obligasi Asing US$ 5,2 Miliar, Ada Apa?

Sementara itu, harga emas berjangka AS menguat 1,5% menjadi US$ 4.480,10 per ons troi.

Penguatan emas terjadi ketika dolar AS berada di bawah tekanan dan imbal hasil US Treasury turun dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Pelemahan dolar membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Pelaku pasar kini menunggu laporan ketenagakerjaan AS atau nonfarm payrolls yang akan dirilis pada Jumat (4/9).

Data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang akan menjadi pertimbangan The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Sebelumnya, laporan ADP menunjukkan jumlah tenaga kerja swasta AS meningkat secara moderat pada Agustus 2026.

"Data payrolls kemungkinan menjadi penentu terbesar pada pekan ini. Jika laporan ketenagakerjaan berada di bawah ekspektasi dan taruhan kenaikan suku bunga September menurun, hal tersebut dapat mendorong harga emas lebih tinggi," ujar Ilya Spivak, Head of Global Macro di Tastylive.

Baca Juga: Permintaan Baru Pacu Penguatan Aktivitas Bisnis, PMI Singapura Melonjak

Menurut Spivak, apabila harga emas mampu bertahan di atas level US$ 4.400 per ons troi, harga berpeluang kembali menuju US$ 4.500 dan selanjutnya US$ 4.700.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan probabilitas sebesar 62% untuk kenaikan suku bunga AS pada bulan ini.

Sementara itu, laporan terbaru The Fed mengenai kondisi ekonomi AS menunjukkan aktivitas ekonomi meningkat secara moderat dalam beberapa pekan terakhir.

Pertumbuhan lapangan kerja juga tercatat sedikit meningkat, sementara harga-harga naik secara moderat.

Laporan tersebut memberikan gambaran ekonomi yang beragam dan dinilai belum memberikan sinyal yang cukup kuat bagi pembuat kebijakan The Fed menjelang pertemuan pada 15-16 September mendatang.

Harga emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya peluang memegang emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Baca Juga: PMI Manufaktur Vietnam Menguat, Produksi Tumbuh Tercepat dalam Dua Tahun

Logam Mulia Lainnya

Penguatan juga terjadi pada sejumlah logam mulia lainnya.

Harga perak spot naik 1,2% menjadi US$ 66,08 per ons troi. Harga platinum meningkat 1% menjadi US$ 1.777,79 per ons troi.

Sementara itu, harga palladium menguat 0,8% menjadi US$ 1.356,50 per ons troi.

Di sisi geopolitik, sejumlah penasihat utama Presiden AS Donald Trump disebut mendorong agar perang dengan Iran tidak semakin meluas sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November. Langkah tersebut dilakukan untuk membatasi potensi kerugian elektoral Partai Republik.

Pejabat Gedung Putih disebut akan mempertimbangkan peningkatan aksi militer setelah pemungutan suara pada 3 November mendatang, menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Baca Juga: Negara Pasifik Bersiap Hadapi China, Uji Coba Rudal Jadi Sorotan