Urgensi open source di industri perbankan nasional



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transformasi yang terjadi di dunia keuangan dan perbankan dari era analog ke digital telah mengubah banyak hal. Tak hanya perilaku bisnis namun juga bisnis itu sendiri. Menjadikan tingkat persaingan naik ke level yang lebih tinggi yang lebih kompleks dan butuh persiapan infrastruktur yang lebih baik agar bisa memenangkan persaingan. Tak hanya antarbank, kini layanan financial technology juga mulai unjuk gigi di ranah fintech atau yang biasa disebut Financial Technology seperti: online payment, uang elektronik, micropayment, dan lainnya.

Di sisi lain perbankan asing juga semakin agresif dalam melakukan penetrasi pasar dengan aksi korporasi mereka mengakuisisi perbankan lokal. Bangkok Bank membeli saham Bank Permata senilai Rp 37,43 triliun, Mitsubishi UFJ Financial Group mengakuisisi saham Bank Danamon, serta Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) yang mengakuisisi Bank BTPN.

Data statistik perbankan Indonesia Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada 115 bank umum di Indonesia, per Januari 2019. Terdiri atas empat bank persero, 42 Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) devisa dan 21 BUSN non devisa. Kemudian ada 27 Bank Pembangunan Daerah, 12 bank asing campuran serta sembilan bank asing. Jumlah itu belum termasuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang sebanyak 1.554 unit.


Ketatnya persaingan, termasuk agresifnya peran bank asing tentu bagus bagi perkembangan industri perbankan nasional. Setiap bank akan dituntut untuk lebih kompetitif, memberikan yang terbaik dari layanan hingga inovasi serta keamanan. Beberapa bank asing dalam kegiatan operasionalnya bahkan telah memanfaatkan sistem berbasis open source dengan pendekatan teknologi terkini, mengikuti perkembangan revolusi industri keempat. Menggunakannya sebagai alat yang terukur dalam pengambilan berbagai keputusan strategis.

Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral sejatinya telah menggagas sistem big data sejak 2014, sebagai salah satu dari lima program transformasi Arsitektur Fungsi Strategis BI 2014-2024. Program tersebut diharapkan bisa mempercepat langkah BI dalam mengendalikan inflasi dan mendukung tercapainya stabilitas sistem keuangan. Karena itu BI terus mendorong bank-bank lokal memperkuat basis teknologi digital agar efisien di tengah makin sengitnya perebutan pasar di industri perbankan dan pembiayaan.  

Bank Mandiri adalah salah satu yang telah terbukti sukses mengadopsi teknologi big data. Mengalokasikan dana sebesar Rp.136 miliar untuk investasi infrastruktur big data pada tahun 2017 guna meningkatkan kualitas layanan kredit. Teknologi big data ini dimanfaatkan untuk mengumpulkan dan menganalisis data-data nasabah berupa kebiasaan maupun gaya dalam membelanjakan uang serta melakukan transaksi harian. Hasil dari pengolahan data tersebut akan dimanfaatkan untuk menentukan creditworthiness atau kelayakan kredit dari setiap nasabah atau untuk menentukan ketertarikan nasabah terhadap suatu produk kredit tertentu. Selain itu,  hasil analisis big data tersebut juga digunakan untuk memilih cara penyaluran kredit yang tepat dan juga penanggulangan risikonya.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) tahun ini menyiapkan anggaran belanja teknologi informasi (TI) sebesar Rp. 1,13 triliun guna mendorong sistem digital ketimbang membangun infrastruktur konvensional seperti kantor dan mesin ATM. Keputusan ini berdasarkan data transaksi di kantor cabang yang sudah turun 30% secara tahunan. Kini, BNI terus menggenjot layanan e-channel, mobile banking dan inovasi BNI Sonik, yakni mesin smart kios agar nasabah bisa membuka rekening secara digital. Sementara Bank BTN mengalokasikan belanja modal Rp. 500 miliar untuk infrastruktur TI. Tahun ini, BTN akan lebih fokus membangun ekosistem TI yang salah satunya adalah Application Programming Interface (API) untuk menggandeng perusahaan teknologi finansial dan startup yang bergerak di bidang kredit pemilikan rumah (KPR).

Semua perusahaan besar, termasuk di sektor keuangan dan perbankan telah menyadari pentingnya invstasi di bidang TI agar bisa melalui masa transformasi digital dengan mulus demi keberlangsungan bisnis di masa depan. Namun tak sedikit perusahaan skala menengah dan kecil yang masih ragu atau terkendala dalam menerapkan solusi TI mereka. Utamanya disebabkan karena ketidaksiapan SDM dan faktor keuangan.

Data Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi atau IP-TIK Nasional 2017, masih rendah, atau berada di level 4,99 dari skala 1-10. Sedangkan pada tingkat global, Indonesia berada di urutan ke-45 dari 140 negara atau ke-4 di wilayah Asia Tenggara, dalam daftar The Global Competitiveness Report 2018, yang dikeluarkan World Economic Forum. Di sisi lain, salah satu tantangan besar Indonesia dalam menyambut revolusi industri 4.0 adalah kesiapan SDM di industri teknologi informasi untuk mencapai potensi ekonomi digital sebesar US$ 150 miliar atau Rp2.100 triliun pada 2025.

Solusi Open Source Di era persaingan digital yang panas dan ketat ini, siapapun yang tak memiliki infrastruktur TI mumpuni dipastikan akan tersingkir. Karena itulah software open source bisa menjadi solusi terbaik bagi perusahaan yang ingin memenangkan persaingan. Selain andal dan aman, software berbasis open source  menawarkan kebebasan dan keleluasaan ketimbang software berlisensi yang cenderung kurang adil dan bersifat kapitalistik.

PT Equnix Business Solutions menemukan bahwa peralihan dari software lisensi berbayar ke open source bisa menghemat setidaknya sekitar 50 % dari total anggaran IT pada sistem tersebut. “Untuk bisa bersaing, perusahaan harus memiliki infrastruktur TI yang mumpuni karena itulah PostgreSQL hadir sebagai solusi. Sebagai sistem database open source performanya terbukti lebih unggul dibanding sistem database berbayar manapun. Selain kemandirian berkat lisensi non-komersial berbasiskan open source, PostgreSQL memiliki skalabilitas jauh lebih baik,” kata Julyanto Sutandang, pakar PostgreSQL sekaligus CEO, PT Equnix Business Solutions, dalam keterangan resminya, Selasa (21/1).

Tumbuhnya perusahaan startup yang bagai jamur di musim hujan saat ini tak mungkin bisa terjadi jika tanpa peran software open source. Tak mungkin mereka akan berkembang pesat jika sejak awal mereka sudah terbenani dengan biaya tinggi untuk software. Efisiensi biaya hanya bisa terjadi dengan menggunakan software open source. Dan perusahaan startup ini sudah mulai menggeroti Perbankan dan Old Establish Enterprise lainnya. Revolusi industri modern akan dimulai dari sini. Kita harus mampu berubah dan mendisrupsi diri kita kalau tidak mau dilibas oleh mereka.

Sementara di sisi perbankan, persaingan yang sangat ketat juga menuntut efisiensi tinggi dan sistem database open source PostgreSQL akan menjadi solusi terbaik untuk Database RDBMS. Performanya yang tinggi dan terpercaya akan menjadikan perusahaan tidak lagi tergantung pada sistem database komersial. PostgreSQL adalah raja database untuk sistem transaksional tinggi yang dapat digunakan sebagai alternatif utama dalam dunia bisnis.

PostgreSQL adalah RDBMS dengan fitur paling lengkap di dunia saat ini dan dinobatkan sebagai RDBMS of the Year 2018 oleh DB-Engine selama dua tahun berturut-turut.  Di sisi popularitas, DB-Engines melaporkan bahwa database open source mengalami peningkatan popularitas setiap tahunnya sejak 2013  dan telah menggerus pangsa pasar database komersial. Sekalipun database komersial masih memimpin pasar, tapi database open source menunjukkan tren penguatan untuk menjadi mayoritas dalam tempo 12 hingga 18 bulan mendatang.

Sesuai hukum alam modern, perbankan dan perusahaan yang mampu mengikuti perkembangan teknologi digital secara terus-menerus diyakini akan memiliki masa depan yang cerah. Karena mereka mampu menciptakan aneka produk inovatif, memanfaatkan big data berbasis open source untuk melakukan cross-selling serta peningkatan efisiensi guna menekan biaya operasional bank.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dadan M. Ramdan