KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan teknologi kedirgantaraan membuka babak baru dalam industri logistik nasional. Di tengah tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, kehadiran pesawat tanpa awak (unmanned aerial system/UAS) berkapasitas besar dinilai menjadi solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang. PT Ursa Aero Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang bersiap mengambil peran dalam transformasi tersebut. Perseroan fokus mengembangkan layanan logistik udara tanpa awak yang mampu menjangkau wilayah terpencil dengan waktu tempuh lebih singkat dibandingkan moda transportasi konvensional. Terbaru, PT Ursa Aero Indonesia ditunjuk sebagai mitra strategis dalam distribusi dan pengembangan operasional pesawat kargo tanpa awak Hongyan HY-100 di dalam negeri.
Pesawat yang dikembangkan Ursa Aeronautical Technology Co., Ltd ini menjadi pionir dalam industri low-altitude economy global dan tercatat sebagai UAS (unmanned aircraft system) kelas berat pertama di dunia yang telah beroperasi dengan sertifikasi lengkap dari
Civil Aviation Administration of China (CAAC).
Baca Juga: Kenaikan Tiket Pesawat Dipicu Lonjakan Biaya Avtur Country Director PT Ursa Aero Indonesia, Tendi Febrian, menilai HY-100 sebagai solusi konkret bagi tantangan logistik nasional, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). “Pesawat ini bukan sekadar UAS, melainkan infrastruktur udara yang mampu mendukung distribusi logistik secara lebih efisien dengan standar keamanan tinggi,” kata Tendi dalam keterangannya, Minggu (3/5/2026). Ia menambahkan, pengembangan LUAS tidak hanya berfokus pada inovasi teknologi, tetapi juga pemanfaatannya di berbagai sektor, mulai dari logistik, pertanian, modifikasi cuaca, penanganan bencana, hingga pengawasan wilayah. Ke depan, PT Ursa Aero Indonesia berencana membangun bandara khusus UAS seluas 43 hektare di Simpenan, Sukabumi. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem
low-altitude economy nasional sekaligus mendorong Indonesia menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan teknologi pesawat tanpa awak di kawasan Asia Tenggara. “Setiap inovasi di sektor ini diharapkan membuka peluang bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam kemajuan teknologi kedirgantaraan,” tutup Tendi.
Baca Juga: Indonesia Harus Beli 50 Pesawat Boeing, Menhub: Semua dari Garuda Indonesia Secara teknis, HY-100 memiliki bobot lepas landas maksimum mencapai 5,25 ton, dengan kapasitas muatan hingga 1,9 ton. Pesawat ini mampu menempuh jarak hingga 1.800 kilometer dan bertahan di udara lebih dari 10 jam. Dengan bentang sayap lebih dari 18 meter serta kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pendek—kurang dari 550 meter—di berbagai jenis permukaan, HY-100 dapat menjalankan misi logistik yang sebelumnya hanya bisa dilakukan pesawat berawak. Di Indonesia, proses validasi Type Certificate saat ini tengah diselesaikan oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan. Proses ini mengacu pada regulasi CASR Part 21 dan Part 22 guna memastikan kesesuaian standar keselamatan dan kelaikudaraan untuk operasional di dalam negeri.
Baca Juga: INACA Dorong Evaluasi Tarif Batas Atas, Kenaikan Avtur Berpotensi Kerek Harga Tiket Kasubdit Operasi Pesawat Udara DKPPU, Reymon Palapa, menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam mengadopsi teknologi Large Unmanned Aircraft System (LUAS) secara terukur dan aman. Senada, Kepala Tim Engineering & Emerging Technology DKPPU, Meddy Yogastoro, menjelaskan bahwa validasi uji tipe dilakukan secara komprehensif, mulai dari pemeriksaan dokumen, simulator, hingga uji terbang. Hal ini penting agar UAS kelas berat dapat terintegrasi dalam ekosistem penerbangan nasional tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News