Ayam goreng sudah menjadi menu makanan sehari-hari masyarakat Indonesia. Selain bahan baku mudah didapat, rasanya yang nikmat membuat penganan ini memiliki banyak penggemar. Cara pengolahannya pun kian hari makin beragam, mulai digoreng dengan tepung krispi hingga dilaburi aneka sambal yang menggoyang lidah. Lantaran peminatnya tidak terbatas usia, banyak pengusaha kuliner yang memilih menu ini sebagai menu utama di gerainya. Tidak sedikit dari mereka yang menawarkan kemitraan usaha untuk membiakkan gerai. Untuk mengetahui perkembangan terkini kemitraan kuliner ayam, kali ini KONTAN akan mengulas beberapa di antaranya Chicken Sogil. Quick Chicken, dan Ayam Lepaas. Berikut ulasannya: • Chicken Sogil Usaha ayam goreng besutan Ramadan asal Tangerang ini sudah berdiri sejak tahun 2011. Saat ini KONTAN mengulas usaha ini pada April 2014 silam, Chicken Sogil telah memiliki dua gerai milik sendiri
dan 53 gerai milik mitra. Setelah lebih dari setahun, kini mitranya telah bertambah hingga 60 gerai dan milik induk usaha menjadi tiga gerai yang tersebar di Tangerang, Bekasi, dan Serang.
gerai yang cukup signifikan. Ketika KONTAN mengulas tawaran usaha ini pada Maret 2013, Quick Chicken memiliki 229 gerai, yakni sebanyak 72 gerai milik pusat, selebihnya milik mitra. Saat ini, Quick Chicken mampu menambah gerai hingga 279 gerai. Peningkatan gerai berasal dari penambahan mitra usaha, sebab gerai milik pusat justru berkurang menjadi 28 gerai. Semula, Quick Chicken hanya berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tetapi dalam dua tahun terakhir merek ini melebarkan sayap ke wilayah lainnya seperti Jawa Barat, NTB, NTT, Kalimantan sampai Papua. Bedi Zubaedi, Marketing Manager Quick Chicken mengatakan, dari tahun 2014 hingga kini nilai investasi kemitraan Quick Chicken tidak berubah, yakni sebesar Rp 350 juta. Dengan nilai investasi ini mitra akan mendapatkan fasilitas dapur standar, peralatan gerai, bahan baku awal, pelatihan karyawan dan biaya kerjasama selama lima tahun. Investasi ini di luar sewa tempat. Standar luas gerai yang dibutuhkan sekitar 70 m². Namun, tambah Bedi, nilai investasi ini bersifat relatif dan bisa dinegosiasikan sesuai kemampuan calon mitra. Quick Chicken juga meringankan mitra dengan menerapkan cicilan investasi dengan uang muka minimal sebesar Rp 10 juta. Namun, kenaikan bahan baku utama seperti ayam membuat harga jual produk ikut naik sebesar 3% hingga 8%. "Daripada menurunkan kualitas, lebih baik menaikkan harga meski harus tetap bisa kompetitif," kata Bedi. Untuk menarik pelanggan, Quick Chicken selalu rutin mengeluarkan produk baru setiap enam bulan sekali. Seperti enam bulan lalu, dia meluncurkan menu baru bertajuk american penyet. Sementara pada 15 Oktober mendatang, Quick Chicken akan meluncurkan menu baru bernama berger sapi. Selain menu baru, Quick Chicken juga rajin menggelar promo berhadiah bagi pelanggannya. Misalnya pada Lebaran tahun ini, dengan pembelian menu Rp 30.000, mitra akan mendapat satu kupon yang akan diundi untuk memperebutkan berbagai hadia menarik seperti handphone. Promo ini terbukti berhasil meningkatkan omzet Quick Chicken sebanyak 12%. Namun, menurut Bedi, kendala yang sering dihadapi bisnis kuliner adalah naiknya harga bahan baku yang memaksa untuk menaikkan harga. Untuk mengatasi ini, maka Quick Chicken melakukan efisiensi operasional, berusaha lebih produktif dan kreatif. Ke depannya, Quick Chicken menargetkan bisa menjaring 7 mitra potensial di akhir tahun 2015. • Ayam Lepaas Usaha ayam goreng ini beroperasi sejak tahun 2009 di Aceh. Untuk mengembangkan usahanya, sejak tahun 2010, si empunya usaha membuka peluang kemitraan. Menu andalannya
adalah ayam lepaas yang berbalur sambal hijau dan juga ayam lemas yang yang berbalur sambal manis. KONTAN pernah mengulas tawaran Ayam Lepaas milik Suparno ini pada 30 Agustus 2014 lalu. Kala itu, gerai Ayam Lepaas sudah berjumlah 88, yang tersebar di Aceh, Sumatra Utara, Jambi, Lampung, Banten, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali. Dari situ, gerai milik mitra ada 80, selebihnya milik sendiri. Nah, saat ini, total gerai Ayam Lepaas tersisa 33 yang tersebar di Aceh, Jakarta, Bengkulu, dan Lampung. Darisitu terlihat, meski Ayam Lepaas masih bertahan sampai sekarang, terlihat Ayam Lepaas tidak terlalu agresif menambah gerai. Malah, beberapa gerai terpaksa tutup. Salah satu penyebabnya adalah sempat ada sengketa soal kepemilikan merek Ayam Lepaas di tingkat pendiri. Nur Ainah, staf pemasaran Ayam Lepaas menyampaikan, saat ini, pusat tidak memiliki gerai lagi, tapi hanya memproduksi bahan baku saja dan melatih karyawan untuk mitra baru. Selain itu, penurunan jumlah gerai disebabkan karena ada beberapa gerai yang penjualannya tidak bagus dan ada juga tutup karena pindah manajemen dan tidak memperpanjang kontrak.