Usai Alami Tren Pertumbuhan, Laba Fintech Lending Tertekan per Agustus 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laba komprehensif industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) tercatat terkontraksi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, laba komprehensif industri fintech lending mencapai Rp 1,58 triliun per Agustus 2026, atau terkontraksi 2,99% secara Year on Year (YoY).

Jika ditelaah, kondisi per Agustus 2026 terbilang memburuk dibandingkan tren pencapaian pada bulan-bulan sebelumnya. Asal tahu saja, laba industri fintech lending mencapai Rp 1,36 triliun per Juli 2026, atau tumbuh 18,20% YoY.

Adapun laba industri fintech lending per Juni juga tercatat tumbuh 10,14%, dengan nilai mencapai Rp 1,15 triliun.


Baca Juga: Turunkan GWM, BI: Bukan Ketat, Likuiditas Perlu Diseimbangkan

Mengenai hal itu, Pengamat Teknologi sekaligus Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan penurunan laba industri usai mengalami tren pertumbuhan menunjukkan bahwa pertumbuhan pembiayaan tidak otomatis diikuti pertumbuhan keuntungan. Hal itu juga tak terlepas dari sisi kualitas portofolio pembiayaan industri.

Meski pembiayaan naik sebesar 22,07% secara Year on Year (YoY), tetapi tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 juga turut meningkat menjadi 4,73% per Agustus 2026. Alhasil, Heru berpendapat kondisi itu mengindikasikan adanya tekanan yang perlu diwaspadai industri.

"Kondisi itu mengindikasikan adanya tekanan yang perlu diwaspadai, mulai dari kemampuan bayar peminjam, biaya memperoleh pendanaan, hingga biaya operasional dan penagihan," ujarnya kepada Kontan, Kamis (22/10).

Namun, Heru mengatakan dalam memastikan penyebab utama penurunan laba, diperlukan rincian laporan keuangan industri. Sebab, data agregat tersebut belum menunjukkan kontribusi masing-masing faktor secara terpisah.

Lebih lanjut, Heru memperkirakan peluang peningkatan laba fintech lending hingga akhir tahun sebenarnya masih terbuka. Namun, dia bilang peluang pertumbuhan itu perlu diimbangi kualitas pembiayaan yang sehat. 

Oleh karena itu, penyelenggara perlu memperkuat credit scoring, menilai kemampuan bayar secara realistis, menekan biaya operasional, dan memperbaiki tata kelola penagihan. 

"Mereka juga harus menghindari strategi mengejar pertumbuhan penyaluran dengan mengabaikan risiko gagal bayar," tuturnya.

Heru juga menyampaikan bahwa OJK perlu terus mengawasi praktik pinjaman berulang yang berpotensi mendorong gali lubang tutup lubang, apalagi melihat kondisi ekonomi Indonesia yang tidak baik-baik saja saat ini. 

Menurut Heru, laba yang sehat bukan berasal dari makin banyaknya penyaluran pembiayaan kepada borrower, melainkan mengedepankan pembiayaan yang tepat sasaran, risiko yang terkendali, dan operasional yang efisien.

Heru mengatakan jangan sampai industri fintech lending terlihat tumbuh besar karena semakin banyak uang yang dipinjamkan. Namun, pada saat yang sama, makin banyak masyarakat yang kesulitan membayar pinjaman. 

"Pertumbuhan pembiayaan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Platform juga harus melihat pinjaman tersebut benar-benar produktif atau tidak, kemudian peminjam mampu membayar atau tidak, dan pengendalian risiko gagal bayar," ungkapnya.

Heru menerangkan OJK juga perlu memastikan persaingan fintech lending tidak berubah menjadi perlombaan menyalurkan pembiayaan sebanyak-banyaknya. Dia bilang ketika risiko kredit meningkat, yang harus diperbaiki bukan hanya penagihan, melainkan juga proses seleksi peminjam, penilaian kemampuan membayar, dan pencegahan praktik gali lubang tutup lubang. 

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan kinerja laba industri tak terlepas dari faktor yang memengaruhi, antara lain pertumbuhan pembiayaan, kualitas portofolio, pendapatan, dan biaya operasional penyelenggara.

Agusman juga sempat memperkirakan peluang pertumbuhan laba industri fintech lending masih terbuka hingga akhir tahun. Dia bilang hal itu didukung pertumbuhan outstanding pembiayaan dan terjaganya kualitas portofolio. 

Baca Juga: Bank Woori Saudara (SDRA) Berpeluang Optimalkan Pendapatan dari Universal Banking

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News