KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), pengelola jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics, mempercepat ekspansi bisnis setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan, memperluas jaringan layanan, serta mengembangkan rumah sakit mata berstandar global di Bali. Perusahaan yang berawal dari Klinik Mata Jakarta pada 1984 itu kini mengoperasikan lima rumah sakit khusus mata dan 11 klinik di berbagai daerah, termasuk Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi.
JECX resmi mencatatkan saham di BEI pada 7 Juli 2026 dengan melepas 487,98 juta saham baru atau 10% dari modal setelah IPO serta 162,66 juta saham divestasi atau sekitar 5%, sehingga total saham yang ditawarkan mencapai 15% dengan nilai penawaran Rp609,97 miliar.
Baca Juga: Saham IPO JECX Melantai Di BEI Hari Ini, Akankah Harga Melambung Di Hari Perdana? Presiden Direktur JECX Johan A. Hutauruk mengatakan, dana IPO akan dimanfaatkan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung agenda ekspansi perusahaan. "Dana hasil IPO akan dimanfaatkan untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus mendukung agenda ekspansi perusahaan," ujarnya. Salah satu fokus investasi JECX adalah pembangunan JEC Bali Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Bali. Fasilitas tersebut dirancang sebagai pusat layanan kesehatan mata berstandar internasional dengan konsep Blue Hospital untuk menangkap peluang pasar medical tourism. Selain itu, perusahaan mengalokasikan Rp40 miliar untuk melunasi sebagian pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk, Rp100 miliar untuk pembayaran sebagian pinjaman kepada PT Bank HSBC Indonesia, serta Rp185 miliar sebagai tambahan modal bagi sejumlah entitas anak.
Baca Juga: Mulai Hari Ini Penawaran Umum 3 Saham IPO (JECX-PRDL-JELI), Ini Cara Pesan Saham Baru Sisa dana IPO akan digunakan sebagai modal kerja hingga akhir 2027. Seiring ekspansi tersebut, JECX membidik pendapatan sebesar Rp900 miliar hingga Rp1 triliun pada 2026 dengan target laba bersih sekitar Rp320 miliar. Direktur Keuangan JEC Group Budi Djatmiko menilai target itu masih realistis meski industri kesehatan menghadapi tekanan kenaikan biaya alat kesehatan dan potensi penundaan tindakan medis akibat kondisi ekonomi. Menurutnya, perusahaan akan terus mengendalikan biaya dan meningkatkan efisiensi operasional untuk menjaga pertumbuhan kinerja.
Dalam tiga tahun terakhir, kinerja pendapatan JECX terus bertumbuh. Pendapatan meningkat dari Rp825,1 miliar pada 2023 menjadi Rp887,7 miliar pada 2024 dan kembali naik menjadi Rp926,8 miliar pada 2025.
Baca Juga: IPO JECX Masuk Masa Offering, Bisa Pesan Saham Mulai Hari Ini di Harga Rp 1.250 Sementara itu, laba bersih turun dari Rp114,1 miliar pada 2023 menjadi Rp65,01 miliar pada 2024 akibat pembukaan sejumlah unit layanan baru, sebelum kembali meningkat 13% menjadi Rp73,76 miliar pada 2025. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News