Usai Keputusan MSCI, Begini Strategi Saham yang Disarankan Analis untuk Investasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham masih rawan terhadap ketidakpastian usai pengumuman penyedia indeks global MSCI dan sejumlah tantangan lainnya. Investor pun perlu lebih cermat dalam mengatur strategi investasinya pada instrumen saham. MSCI menyatakan akan memperpajang peninjauan status pasar saham Indonesia di level emerging market dan mungkin akan mempertimbangkan opsi termasuk klasifikasi ulang ke status frontier market jika kemajuan tidak mencukupi sampai peninjauan pada November 2026. MSCI memberi sinyal kekhawatiran investor institusi internasional atas ketidaktransparanan yang terus-menerus dalam struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi di Indonesia.

Baca Juga: Proyeksi IHSG: Sentimen MSCI Masih Tekan Pasar, Ini Level Kritis IHSG! Pasar saham Indonesia telah bergejolak sejak awal 2026 ketika MSCI membukukan saham Indonesia dan mengancam potensi penurunan peringkat menjadi frontier market. Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia (IHSG) telah terkoreksi 30,62% year to date (ytd) ke level 5.999,04 hingga Kamis (25/6). IHSG juga telah mencatatkan net sell investor asing di seluruh pasar sebanyak Rp 70,57 triliun sejak awal tahun. Di luar isu MSCI, pasar juga mencermati dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), tren pelemahan rupiah, hingga beberapa sentimen eksternal seperti perkembangan konflik geopolitik global dan arah kebijakan suku bunga acuan The Fed. Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, keputusan MSCI mempertahankan Indonesia sebagai emerging market setidaknya menghilangkan risiko terburuk berupa penurunan ke frontier market. Namun, evaluasi lanjutan pada November 2026 membuat volatilitas masih akan tinggi, sehingga investor tetap perlu selektif. Untuk itu, para trader dapat fokus pada saham berkapitalisasi besar yang memiliki momentum teknikal, aliran dana asing, maupun katalis jangka pendek seperti aksi korporasi berupa buyback saham, ekspansi, merger atau akuisisi, rights issue, dan lain sebagainya. "Sementara untuk investor jangka panjang, kondisi valuasi yang masih murah dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat, terutama emiten yang tetap mampu mencatat pertumbuhan laba," ungkap dia, Kamis (25/6). Reza masih mengunggulkan sektor perbankan, terutama BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI karena menjadi konstituen terbesar dalam MSCI Indonesia sekaligus berpotensi menjadi tujuan utama arus dana asing jika sentimen terhadap Indonesia terus membaik. Selain valuasi yang masih menarik, saham perbankan juga menawarkan yield dividen yang kompetitif.

Baca Juga: Niramas Utama (JELI) Pangkas SKU Bermargin Rendah, Laba Melonjak 220% Jelang IPO Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, dalam kondisi pasar yang rawan gejolak seperti saat ini, sektor-sektor yang sejalan dengan rencana kerja pemerintah relatif lebih diunggulkan. Nico juga menyarankan supaya investor memilih emiten kesehatan lantaran masuk dalam kategori saham defensif setidaknya untuk saaat ini. Selain itu, saham-saham yang berbasis ekspor juga dapat opsi, karena mereka dapat memanfaatkan situasi pelemahan rupiah. "Pilih juga perusahaan yang masuk dalam kategori kebutuhan primer," kata dia, Kamis (25/6). Tak hanya itu, Nico juga memandang saham-saham perbankan besar dapat dipertimbangkan oleh investor. Sekalipun harga sahamnya mengalami penurunan, valuasinya justru makin menarik terutama jika performa fundamental emiten tersebut tetap terjaga. Sebaliknya, Nico menyarankan investor untuk menghindari lebih dahulu sektor saham yang sensitif terhadap kenaikan tingkat suku bunga acuan, misalnya properti dan otomotif. Investor juga disarankan menghindari dulu saham-saham yang punya eksposur besar terhadap impor, mengingat biaya produksinya pasti akan mengalami kenaikan di tengah pelemahan rupiah. Terkait strategi menyusun portofolio investasi saham, Nico menganggap hal itu akan kembali lagi pada tiga hal yang ditentukan oleh investor, yaitu tujuan investasi, durasi investasi, dan profil risiko. Dengan demikian, strategi investasi mesti mengacu pada perspektif dan persepsi masing-masing investor. Sebagai gambaran, investor agresif bisa memberikan porsi investasi saham mencapai 70%, sedangkan investor moderat dan konservatif masing-masing menempatkan porsi saham di level 30% dan 10%. "Setiap tiga hal tadi berubah, maka komposisinya pun pasti berubah, sehingga tidak ada yang mutlak," imbuh dia. Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana Hans Kwee menilai, bagi invetor jangka panjang kondisi pasar saat ini sebenarnya dapat menjadi kesempatan untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas secara bertahap lantaran valuasinya sudah murah. Sebaliknya, bagi investor dengan orientasi jangka pendek, strategi yang disarankan adalah memanfaatkan pergerakan pasar yang cenderung bergerak dalam rentang tertentu. Kondisi IHSG yang masih sulit menguat secara berkelanjutan justru membuat strategi trading range lebih relevan. "Kalau yang trading mungkin ketika pasar melemah itu waktu untuk beli dan kalau menguat tinggi saat jual dulu," kata dia, Kamis (25/6). Hans juga menyebut, sektor-sektor seperti perbankan besar dapat menjadi pilihan investasi yang cukup menjanjikan karena memiliki fundamental kuat dan relatif lebih tahan terhadap tekanan suku bunga tinggi. Selain sektor perbankan, saham-saham defensif di sektor konsumsi berorientasi domestik juga masih memiliki prospek positif, karena didukung oleh permintaan dalam negeri yang relatif stabil. Waspadai Risiko Masa Mendatang Terlepas dari itu, lanjut Hans, investor tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko pada masa mendatang. Selain menanti kelanjutan peninjauan MSCI, risiko yang perlu diperhatikan adalah potensi perubahan outlook atau peringkat utang Indonesia yang dapat dipengaruhi oleh kualitas tata kelola, komunikasi kebijakan pemerintah, hingga pengelolaan anggaran negara. Dari sisi global, investor perlu mencermati potensi bubble pada sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), risiko stagflasi dan resesi ekonomi global, berlanjutnya tren suku bunga acuan tinggi, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di luar faktor-faktor tersebut, Reza memandang prospek IHSG terlihat mulai membaik pada semester II-2026 setelah MSCI mempertahankan status emerging market yang disandang Indonesia, sehingga risiko keluarnya dana pasif dalam jumlah besar dapat dihindari. Ditambah lagi, valuasi saham Indonesia saat ini sudah berada di bawah rata-rata historis, sehingga membuka ruang re-rating jika sentimen makro membaik. Hal ini tentu bisa menjadi pertimbangan investor yang hendak kembali berinvestasi pada instrumen saham. Lantas, Reza memperkirakan IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.500--6.800 hingga akhir tahun 2026 dengan asumsi arus dana asing mulai kembali masuk, rupiah kembali stabil, dan kebijakan pemerintah mampu menjaga kepercayaan investor. Di sisi lain, meski tak menyampaikan proyeksi IHSG, Nico memperkirakan pasar saham masih cukup kelabu ketika memasuki semester II-2026 nanti apabila tidak ada perubahan kebijakan dari para pemangku kepentingan yang memberikan dampak dalam jangka pendek. "Biar bagaimana pun, Indonesia ini emerging market, sehingga suka atau tidak suka elemen dari investor asing pasti akan memberi pengaruh terhadap pergerakan IHSG," pungkas dia.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News