Usai Krakatau Osaka, PHK Bisa Meluas ke Industri Semen, Tekstil hingga Plastik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur dinilai belum akan mereda. Selain kasus di PT Krakatau Osaka Steel (KOS), Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia memperingatkan ancaman serupa mulai mengintai industri lain, termasuk semen.

Presiden KSPI, Said Iqbal, mengatakan pihaknya telah menerima laporan terkait PHK di KOS yang dipicu turunnya permintaan pasar.

“Penutupan perusahaan yang dilaporkan oleh pengusaha kepada buruh karena proses daya beli atau permintaan. Daya beli atau permintaan dari customer menurun,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (5/5).


Baca Juga: PHK 161 Pekerja Terjadi di Krakatau Osaka Steel, Pekerja Waspada Efek Lanjutan

Ia menjelaskan, sebelumnya permintaan baja masih ditopang proyek infrastruktur seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan jalan tol. Namun, saat proyek tersebut melambat, permintaan ikut turun sehingga perusahaan melakukan efisiensi hingga berujung PHK.

KSPI mencatat sebanyak 161 pekerja terdampak PHK dalam kasus tersebut, dengan hak-hak pekerja disebut telah dipenuhi oleh perusahaan.

Lebih jauh, Said Iqbal menilai tekanan di industri baja juga dipengaruhi oleh derasnya impor baja murah dari China. Harga yang lebih kompetitif membuat produk lokal sulit bersaing, sehingga pasar domestik semakin dikuasai produk impor.

“Karena dia kalah bersaing dari sisi harga, dimana pasar domestik kita dikuasai oleh impor baja dari China, maka permintaan turun. Kalau permintaan turun berarti efisiensi, PHK,” jelasnya.

Namun, ia menegaskan persoalan ini tidak hanya terjadi di sektor baja. KSPI melihat ancaman PHK juga mulai muncul di industri semen akibat kondisi kelebihan pasokan (oversupply) di tengah masuknya pemain baru, termasuk dari luar negeri.

Baca Juga: Industri Plastik Bertahan di Mode Survival, Inaplas Pastikan Belum Ada PHK

Menurut Said, situasi oversupply membuat harga semen tertekan, sehingga berdampak pada kinerja perusahaan. Bahkan, ia menyebut kondisi ini sudah disuarakan oleh serikat pekerja di sektor semen.

Selain semen, tekanan juga dirasakan industri tekstil dan plastik. Kenaikan biaya energi, terutama bahan bakar non-subsidi, serta mahalnya bahan baku impor dan biaya logistik menjadi faktor tambahan yang mendorong efisiensi tenaga kerja.

KSPI memperkirakan, jika tekanan global dan domestik tidak segera diatasi, gelombang PHK berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan ke depan dan meluas lintas sektor manufaktur.

Di sisi lain, KSPI juga menyoroti gejala deindustrialisasi, di mana penyerapan tenaga kerja bergeser ke sektor informal, sementara sektor formal seperti manufaktur justru melemah.

Untuk itu, KSPI mendorong pemerintah segera mengambil langkah strategis, mulai dari meningkatkan daya beli masyarakat hingga memperkuat industri dalam negeri agar mampu bersaing.

“Karena hanya dengan daya beli itulah industri akan tumbuh,” kata Said.

Ia menegaskan, tanpa penguatan sektor manufaktur, tekanan terhadap industri nasional akan terus berlanjut dan berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja ke depan.

Baca Juga: Menteri ESDM Siapkan CNG Jadi Alternatif LPG, Harga Lebih Murah Sampai 30%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News