Usai melantai di bursa, begini target dan rencana bisnis RMK Energy (RMKE)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Usai melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT RMK Energy Tbk (RMKE) memasang target optimistis. Perusahaan yang berbasis di Sumatra Selatan ini berambisi menjadi pelabuhan batubara yang mampu mengapalkan minimum 25 juta ton per tahun. Target ini dengan pertimbangan jumlah traffic di sungai per hari dan juga kapasitas yang masih dapat dibangun di pelabuhan

RMKE juga akan mengembangkan stasiun pembongkaran kereta api dengan kapasitas lebih dari 17 juta ton per tahun, membangun stasiun muat khusus batubara di hulu lokasi pertambangan batubara, mengembangkan sayap usaha ke jasa penunjang industri batubara seperti kontraktor hauling, kontraktor tambang, ataupun jasa pendukung lainnya. RMKE juga tidak menutup kemungkinan untuk mengakuisisi ataupun bekerjasama untuk tambang-tambang potensial.

Direktur Utama RMKE Tony Saputra mengatakan, saat ini pelabuhan milik RMKE yang terletak di Sumatra Selatan menjadi satu-satunya Terminal khusus (tersus) batubara swasta di Indonesia yang terintegrasi dengan kereta api.


Jarak transportasi yang jauh (rata-rata di atas 100 km) menjadi tantangan terbesar di wilayah Sumatra Selatan. Ditambah, minimnya infrastruktur untuk pengangkutan batubara dengan biaya ekonomis. Padahal, Sumatra Selatan merupakan salah satu daerah yang memiliki deposit batubara terbesar di Indonesia.

“Perseroan memanfaatkan peluang ini dengan adanya lokasi pelabuhan yang strategis dan dekat dengan stasiun pembongkaran kereta api batubara, yaitu Stasiun Simpang,” terang Tony.

Baca Juga: Sepanjang 11 bulan pertama 2021, China impor batubara 292,32 juta ton

Fasilitas logistik angkutan batubara yang dimiliki RMKE memecahkan berbagai macam problem klasik dari tambang batubara, yaitu akses dan solusi atas permasalahan transportasi (hauling) yang lumayan mahal di Sumatra Selatan.

Dengan menggunakan infrastruktur logistik milik RMKE, tambang-tambang yang terletak di area pedalaman akan menjadi lebih kompetitif dengan biaya transport yang lebih rendah, sehingga dapat memaksimalkan produksi batubara

Sebagai gambaran, perusahaan yang didirikan pada Juni 2009 ini bergerak di bidang pelayanan jasa logistik batubara dan trading batubara, yang meliputi bongkar muat di stasiun kereta api, pengangkutan ke pelabuhan serta pemuatan ke tongkang, dan usaha perdagangan batubara.

Dalam waktu dekat, RMKE akan segera mengeroperasikan stasiun muat batubara yang terintegrasi ke stasiun Kereta Api Gunung Megang milik anak usaha RMKE.

RMKE juga memiliki tambang batubara di Muara Enim, melalui salah satu anak perusahaannya dengan cadangan terbukti sebanyak 24,5 metric ton yang akan beroperasi secara komersial tahun depan.

Dengan terus mengembangkan kegiatan usaha yang terintegrasi serta terus meningkatkan kualitas dan tata kelola perusahaan yang baik, manajemen optimistis RMKE akan dapat terus bertumbuh menjadi penyedia jasa logistik batubara terbesar di Sumatera Selatan dan Indonesia.

RMKE resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (7/12). RMKE menjadi perusahaan tercatat ke-48 di sepanjang tahun 2021.

RMKE telah berhasil melaksanakan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) dengan melepas sebanyak 875 juta saham baru, yang mewakili sebanyak 20% dari modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum perdana saham dengan harga Rp 206 per lembar. Dari aksi korporasi itu, RMKE mendapat dana segar sejumlah Rp 180,25 miliar.

Baca Juga: Resmi melantai, saham RMK Energy (RMKE) bergerak fluktuatif pada perdagangan perdana

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat