KONTAN.CO.ID - Harga kedelai berjangka Amerika Serikat (AS) turun pada perdagangan Rabu (16/9/2026), setelah sempat melonjak lebih dari 2% pada sesi sebelumnya. Pelemahan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor yang menekan harga komoditas kedelai. Melansir
Reuters, kontrak kedelai paling aktif di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 0,13% menjadi US$ 13,17 per bushel pada pukul 00.42 GMT.
Baca Juga: China: AI Bukan Monopoli Negara Besar, AS Diminta Kelola Risiko Bersama Harga gandum juga turun 0,41% menjadi US$ 7,25 per bushel, sementara jagung melemah 0,14% menjadi US$ 5,35 per bushel. Penurunan harga minyak mentah turut memberikan tekanan terhadap kedelai dan jagung. Harga minyak turun setelah data menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat secara tak terduga meningkat. Di sisi lain, investor masih mencermati risiko pasokan minyak setelah Arab Saudi menghentikan sementara aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu. Kedelai dan jagung kerap bergerak searah dengan harga minyak mentah karena kedua komoditas tersebut juga digunakan dalam produksi bahan bakar nabati atau biofuel. Pada perdagangan sebelumnya, harga kedelai justru menguat lebih dari 2% setelah data pengolahan kedelai (
soybean crush) Amerika Serikat menunjukkan aktivitas yang lebih lambat dari perkiraan.
Baca Juga: Senat AS Gagal Mengesahkan RUU Kripto, Bitcoin dan Saham Kripto Tertekan National Oilseed Processors Association (NOPA) melaporkan anggotanya mengolah 205,456 juta bushel kedelai pada Agustus. Angka tersebut merupakan tingkat pengolahan terendah dalam 11 bulan. Sementara itu, persediaan minyak kedelai (soyoil) turun ke level terendah sejak November 2024. Kondisi tersebut memberikan dukungan terhadap harga kedelai pada perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar juga memantau perkembangan panen kedelai dan jagung di wilayah Midwest AS. Proses panen telah berlangsung di sejumlah wilayah, meski hujan deras menghambat aktivitas di beberapa bagian Iowa. Iowa merupakan, negara bagian penghasil jagung terbesar sekaligus penghasil kedelai terbesar kedua di AS. Dari Amerika Selatan, badan pangan Brasil Conab memperkirakan produksi kedelai Brasil pada musim 2026/2027 mencapai 181,64 juta ton. Proyeksi tersebut naik 0,7% dibandingkan musim sebelumnya, tetapi masih di bawah proyeksi Departemen Pertanian AS (USDA) sebesar 186 juta ton.
Baca Juga: Impor Jepang Agustus Melonjak, Harga Minyak Dorong Biaya Energi Selain perkembangan produksi, trader juga mencermati risiko terhadap ekspor komoditas biji-bijian dari kawasan Laut Hitam menyusul serangkaian serangan terhadap infrastruktur di kawasan tersebut. Di pasar gandum, badan gandum negara Aljazair, OAIC, dilaporkan membeli sekitar 500.000 ton gandum untuk konsumsi penggilingan melalui tender internasional yang ditutup pada Selasa (15/9), menurut sejumlah pedagang Eropa. Sementara itu, menjelang laporan produksi pertanian Statistics Canada yang akan dirilis Rabu, analis yang disurvei Reuters memperkirakan produksi gandum Kanada pada 2026 mencapai rata-rata 36,73 juta ton. Di pasar berjangka, dana komoditas tercatat menjadi pembeli bersih kontrak berjangka jagung, kedelai, dan gandum di CBOT pada Selasa (15/9), menurut sejumlah trader.