Usai Pengumuman Integrasi dengan MUFG, Saham BDMN Bergejolak, Investor Profit Taking



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sehari setelah PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dan MUFG Indonesia mengumumkan intensi untuk integrasi, perdagangan saham BDMN berlangsung semarak. Sempat menyentuh auto rejection atas (ARA) di Rp 5.875 pada sesi pre-opening, BDMN berada di Rp 4.850 atau naik 3,19%. 

Pada Selasa (12/6), harga saham BDMN ditutup melorot 6,6% ke Rp 4.390.  Investor melakukan penjualan setelah keterbukaan informasi (sell on news) untuk profit taking. 

Maklum, saham BDMN telah menguat 80% dalam sebulan terakhir sejak rumor pertama kali muncul. Bandingkan dengan pergerakan saham big bank yang melemah di atas 15% dalam kurun waktu yang sama. 


Selain faktor sell on news, investor memilih mengunci keuntungan karena penurunan tajam IHSG dan nilai tukar rupiah, menanti  isu pengumuman MSCI. Investor main aman untuk menghindari dampak MSCI pada perdagangan esok hari Rabu, (13/5). 

Pada akhir perdagangan sesi pertama, penurunan saham BDMN tinggal minus 3%. Nah, di tengah rebound itu, terdapat transaksi dalam jumlah besar di pasar nego.       

Ada investor yang memperdagangkan saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN) di harga Rp 6.000 per saham di pasar negosiasi sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI). Harga transaksi tersebut jauh di atas harga penutupan sesi I, Selasa (12/5).

Berdasarkan data perdagangan saham di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, ada investor yang merealisasikan transaksi sebanyak 14.987 lot saham BDMN ditransakskan dengan harga Rp 6.000. Nilainya mencapai Rp 9 miliar.

Sebelumnya, investor institusi asing terpantau agresif menambah kepemilikan saham BDMN menjelang pengumuman rencana integrasi operasional Danamon dengan MUFG Bank Ltd, Jakarta Branch.

Sedangkan berdasarkan data perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), pemodal asing juga mencatatkan net buy saham ini mencapai Rp 41,06 miliar dalam sebulan terakhir.

Berdasarkan daftar 20 besar pemegang saham BDMN, kepemilikan UBS AG London Branch Equities House naik menjadi 164,23 juta saham per 30 April 2026. Jumlah tersebut meningkat 4,22 juta saham, dibandingkan 160,01 juta saham per 31 Maret 2026.

Baca Juga: Saham Melejit, Bank Danamon Bersiap Gabung dengan MUFG Indonesia

Dengan kenaikan tersebut, porsi kepemilikan UBS di BDMN meningkat dari 1,64% menjadi 1,68%. UBS tetap berada di posisi kedua pemegang saham terbesar BDMN setelah MUFG Bank Ltd.

Akumulasi UBS terjadi pada periode yang sama ketika terdapat pembelian bersih atau net foreign buy sebesar Rp 29,71 miliar selama April 2026.

Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2025, BDMN memiliki ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp 54,27 triliun. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 44,08 triliun, price to book (PBV) BDMN saat ini berada di kisaran 0,81x.   Valuasi BDMN berpotensi berubah jika integrasi dengan MUFG Cabang Indonesia terealisasi. MUFG Cabang Indonesia memiliki ekuitas Rp 44,05 triliun. Secara proforma sederhana, ekuitas gabungan BDMN dan MUFG Cabang Indonesia dapat mencapai sekitar Rp 98,32 triliun.   Jika pasar memberi valuasi 1 kali price to book value (PBV) terhadap bank hasil integrasi, market cap BDMN dapat mencapai sekitar Rp 98,32 triliun. Jika menggunakan valuasi 0,8 kali PBV, nilainya sekitar Rp78,66 triliun. Pada skenario lebih optimistis 1,2x PBV, valuasinya dapat mencapai Rp 117,98 triliun.

Jika menggunakan laba bersih atribusi BDMN Rp 3,97 triliun dan laba bersih MUFG Cabang Indonesia Rp 6,93 triliun, laba bersih proforma sekitar Rp 10,9 triliun.   Dengan laba tersebut, valuasi pada price earning ratio (PER) 8 kali setara sekitar Rp87,20 triliun. Pada PER 10 kali, nilainya menjadi Rp109 triliun. Sementara pada PER 12x, valuasinya dapat mencapai Rp 130,80 triliun.

Namun, seluruh perhitungan tersebut masih bersifat proforma sederhana dan belum mencerminkan valuasi final dari bank hasil integrasi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News