KONTAN.CO.ID - JAKARTA. MUFG Indonesia dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) sudah mengumumkan rencana integrasi usaha. Kini perhatian investor publik kini terfokus pada dua hal. Yakni skema transaksi dan
timeline serta pelaksanaan penawaran tender alias
tender offer. Terkait skema manajemen kedua pihak masih belum mau buka-bukaanm. manajemen menegaskan belum bisa memaparkan lebih detail karena pengumuman ini baru fase awal dari rangkaian integrasi. Sementara untuk agenda kedua, investor publik langsung teringat pada pelaksanaan harga
tender offer masa lalu pada 2019 silam. Ketika itu MUFG melengkapi rangkaian akuisisi mayoritas saham milik Temasek di BDMN.
Pelaksanaan tender terkait aksi korporasi semacam ini termaktub dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 41/POJK.03/2019 Tahun 2019 tentang Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan, Integrasi, dan Konversi Bank Umum. Perhatian pasar kini tertuju pada potensi harga
tender offer yang dinilai akan mengacu pada harga wajar berdasarkan valuasi perusahaan. Investor BDMN bisa bernostalgia dengan pelaksanaan tender offer pada 2019 yang dihargai super premium. Padahal laba BDMN di tahun 2018 yang menjadi pijakan aksi itu tercatat moderat, tumbuh 6,5% yoy.. Pencapaian laba tersebut masih di bawah ekspektasi. Penyaluran kredit BDMN tumbuh 7,8%, seda walaupun portofolio kredit mikro turun 1,6%. Sementara biaya kredit naik karena bauran kredit beralih menuju aset risiko lebih rendah.
Baca Juga: WOM Finance Optimistis Prospek Pembiayaan Modal Kerja Masih Positif Pada 2019 Bank Danamon (BDMN) menetapkan harga
tender offer di level Rp 9.590 per saham. Saat itu ekuitas perseroan masih tercatat sekitar Rp 30 triliun. Sedangkan saat ini BDMN sudah bertumbuh, baik dari sisi aset, ekuitas maupun profitabilitas. Ketika MUFG dan BDMN mengumumkan integrasi, ekuitas atau modal BDMN telah naik menjadi Rp 54 triliun. MUFG Indonesia yang disebut memiliki laba bersih lebih tinggi, dibandingkan BDMN juga dinilai dapat menjadi salah satu faktor penentu harga tender offer. Jika menggunakan estimasi paling moderat atau minimal, harga tender offer diperkirakan berada di kisaran Rp 6.000 per saham. Harga ini mencerminkan 1 kali nilai buku atau
price to book value (PBV). PBV 1 kali lazim digunakan sebagai acuan untuk menghitung harga wajar. Nah, saat ini, harga saham BDMN masih mencerminkan PBV sekitar 0,8 kali. Jika menggunakan target ambisius, harga
tender offer berpotensi mendekati level Rp 9.590 per saham, seperti tender offer pada 2019. Harga tender offer BDMN pada Maret 2019 tercatat 28% lebih tinggi, dibandingkan hasil penilaian appraisal independen sebesar Rp 7.492 per saham. Harga tersebut juga berada 21,4% di atas harga pasar Rp 7.900 per saham pada 1 Maret 2019, tanggal penentuan hak pemegang saham untuk memperoleh
tender offer. . Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2025, BDMN secara konsolidasian memiliki total aset Rp275,71 triliun. Pada periode yang sama, MUFG Cabang Indonesia memiliki total aset Rp 201,65 triliun. Jika dijumlahkan secara sederhana, total aset gabungan keduanya berpotensi mencapai Rp 477,36 triliun.
Dari sisi ekuitas, BDMN mencatatkan total ekuitas Rp 54,27 triliun. MUFG Cabang Indonesia mencatat ekuitas Rp 44,05 triliun. Secara proforma sederhana, ekuitas gabungan dapat mencapai Rp 98,32 triliun. BDMN membukukan laba bersih konsolidasian Rp 4,19 triliun pada 2025, dengan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 3,97 triliun. Sementara itu, MUFG Cabang Indonesia mencatat laba bersih Rp 6,93 triliun. Jika kedua angka laba bersih dijumlahkan secara sederhana, laba gabungan dapat mencapai Rp 11,13 triliun. Adapun laba bersih gabungan dengan menggunakan basis laba atribusi pemilik BDMN mencapai sekitar Rp 10,9 triliun. Pada Rabu (13/5) pukul 11.18 WIB, harga saham BDMN tutup di Rp 4.360 per saham. Turun 0,68%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News