Usai Suspensi Dicabut BEI, Saham COAL Melesat 8,7% Meski Masih Merugi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) menguat 8,7% ke level Rp 25 per saham setelah kembali diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga pukul 11.25 WIB pada Jumat (7/8/2026), saham COAL naik 2 poin dibandingkan harga penutupan terakhir sebelum suspensi.

Sebelumnya, BEI resmi mencabut penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham PT Black Diamond Resources Tbk di Pasar Reguler dan Pasar Tunai mulai Sesi 4 Periodic Call Auction pada Kamis (6/8/2026).

Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, Teuku Fahmi Ariandar dalam keterbukaan informasi di BEI pada (6/8/2026) mengatakan pencabutan suspensi dilakukan setelah COAL memenuhi seluruh kewajiban yang sebelumnya menjadi dasar penghentian sementara perdagangan saham.


Baca Juga: Proyek Tambang Emas Awak Mas: Indika (INDY) Dapat Fasilitas Pinjaman US$ 155 Juta

"Pencabutan suspensi dilakukan setelah PT Black Diamond Resources Tbk memenuhi seluruh kewajibannya yang sebelumnya menjadi penyebab pembekuan perdagangan efek, yaitu terkait penyampaian Laporan Keuangan Interim per 31 Maret 2026," kata Teuku dalam keterbukaan informasi BEI.

Sebelumnya saham COAL disuspensi sejak 30 Juli 2026 karena dikenai sanksi atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan interim. Setelah kewajiban tersebut dipenuhi, BEI memutuskan untuk membuka kembali perdagangan saham emiten tersebut.

Teuku juga menyampaikan saat ini tidak terdapat kondisi lain yang menjadi penghalang perdagangan saham PT Black Diamond Resources Tbk, yang tercatat di Papan Pemantauan Khusus.

Meski demikian, BEI mengimbau investor dan seluruh pihak yang berkepentingan untuk tetap mencermati setiap keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perusahaan sebagai dasar dalam mengambil keputusan investasi.

Berdasarkan laporan keuangan Black Diamond Resources (COAL) per kuartal I-2026 masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 8,29 miliar, berbalik dari laba bersih Rp 5,39 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang tidak diaudit per 31 Maret 2026, rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 8,23 miliar, dari laba Rp 5,35 miliar pada kuartal I-2025. Alhasil, rugi per saham dasar perseroan menjadi Rp 1,32 per saham, dari sebelumnya laba Rp 0,86 per saham.

Kondisi ini terjadi lantaran selama kuartal I-2026, COAL tidak membukukan pendapatan dari sebelumnya membukukan pendapatan Rp 126,52 miliar di kuartal I-2025. 

Baca Juga: Harga Emas Bersiap Catat Kenaikan Mingguan Terbesar sejak Januari 2026

Dari sisi neraca, total aset perseroan hingga 31 Maret 2026 meningkat 2,71% menjadi Rp824,80 miliar dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp 803,02 miliar.

Di sisi lain, posisi kas dan bank mengalami penurunan tajam sebesar 98,37% menjadi hanya Rp 233,03 juta dari sebelumnya Rp 14,29 miliar.

Pada sisi liabilitas, total kewajiban COAL meningkat 6,88% menjadi Rp 466,94 miliar dari Rp 436,87 miliar pada akhir 2025.

Sementara itu total ekuitas COAL turun 2,26% menjadi Rp 357,86 miliar dibandingkan Rp 366,16 miliar pada 31 Desember 2025. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya saldo laba belum dicadangkan sebesar 4,30% menjadi Rp 183,41 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News