Usai Teken Impor Migas Senilai US$ 15 Miliar dari AS, Begini Penjelasan Bahlil



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara terkait Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Indonesia–AS untuk pembelian minyak dan gas bumi (migas) dengan total sebesar US$ 15 miliar dari negeri Paman Sam.

Dari total alokasi US$15 miliar, porsi terbesar untuk BBM olahan mencapai US$ 7 miliar, diikuti minyak mentah senilai US$ 4,5 miliar, dan LPG US$ 3,5 miliar.

Bahlil menjelaskan, alokasi US$ 15 miliar mencakup pembelian bahan bakar minyak (BBM) olahan, liquefied petroleum gas (LPG), serta minyak mentah (crude oil).


Baca Juga: Indonesia Akan Mengerek Impor Migas dari AS Bulan Depan, Pertamina: Kita Harus Siap

“15 miliar USD yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat bukan berarti kita menambah volume impor. Namun, kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara, di antaranya negara-negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, maupun beberapa negara di Afrika. Secara keseluruhan, neraca komoditas pembelian BBM kita dari luar negeri tetap sama. Hanya saja sumbernya kita geser,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers Penjelasan terkait Implementasi Teknis Sektor ESDM Pasca Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Indonesia - Amerika Serikat secara daring, Jumat malam (20/2/2026).

Menurutnya, mekanisme pembelian akan memperhatikan prinsip keekonomian yang saling menguntungkan bagi kedua negara. Untuk LPG, yang selama ini impor Indonesia mencapai sekitar 7 juta ton per tahun, volume dari AS akan ditingkatkan.

Sementara tahapan eksekusi diperkirakan akan berjalan setelah finalisasi arahan Presiden Prabowo dalam 90 hari ke depan.

Catatan Kontan, komitmen ini tercantum dalam Annex IV: Purchase Commitments yang dirilis Gedung Putih, bagian dari pengaturan perdagangan bilateral kedua negara senilai indikatif US$33 miliar.

Baca Juga: ESDM: Impor Migas dari AS Tak Ganggu Target Setop Impor BBM

Fokus utama kerja sama energi ini meliputi BBM, minyak mentah, dan LPG. Dari total alokasi US$15 miliar, porsi terbesar untuk BBM olahan mencapai US$7 miliar, diikuti minyak mentah senilai US$4,5 miliar, dan LPG US$3,5 miliar.

Peningkatan impor dari AS sejalan dengan upaya pemerintah menjaga ketahanan pasokan energi domestik di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi dan fluktuasi produksi dalam negeri.

Diversifikasi sumber impor dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok tradisional serta mengantisipasi praktik manipulasi pasar.

Selain itu, Indonesia juga mendukung impor batubara metalurgi dari AS untuk memperkuat industri baja nasional dan keandalan energi sektor industri.

Selanjutnya: Perjanjian Dagang RI-AS, Indonesia Buka Keran Impor Bieotanol dari Amerika

Menarik Dibaca: 9 Suplemen dan Vitamin yang Dibutuhkan Wanita Usia 40 Tahun ke Atas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News