KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Perjanjian perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan Indonesia diperkirakan akan diselesaikan dalam beberapa minggu ke depan. Demikian disampaikan Perwakilan Perdagangan AS (United States Trade Representative/USTR) Jamieson Greer dalam wawancara dengan
Fox Business Network yang dikutip
Reuters, Selasa (10/2/2026). Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk meneken dokumen final kesepakatan tarif produk impor asal Indonesia yang masuk ke Amerika.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, rencana pertemuan tersebut tengah dibahas di Kementerian Luar Negeri. "Itu (pertemuan) sedang dibahas di Kementerian Luar Negeri. Nanti Pak Menlu yang akan sampaikan," kata Teddy kepada awak media di Istana Kepresidenan, Selasa (3/2/2026). Baca Juga:
Ini Penyebab RI Sulit Naik Kelas ke Negara Berpendapatan Tinggi Menurut Bank Dunia Teddy menambahkan tim Kementerian Luar Negeri sudah melakukan perbincangan awal untuk menjadwalkan pertemuan tersebut. Namun hingga kini masih belum ada keputusan jadwal resmi pertemuan kedua kepala negara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto juga menyebut, negosiasi tarif dagang dengan AS sudah sepenuhnya tuntas. Pemerintah kini tinggal menyepakati dokumen final yang akan diteken langsung Prabowo dan Trump. Namun saat ditanya ihwal besaran tarif final yang diberikan oleh Pemerintah Amerika Serikat kepada Indonesia, Airlangga menyatakan bahwa ada non disclousure agreement dari kedua negara. "Dapatnya belum, masih ada non disclosure agreement," ungkap Airlangga usai Rakortas Pemerintah Pusat-Daerah, Senin (2/2/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, AS menjadi negara penyumbang surplus terbesar neraca perdagangan Indonesia di tahun 2025. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan, surplus neraca perdagangan Indonesia dengan AS secara total, baik migas maupun non-migas, mencapai US$ 18,11 miliar sepanjang 2025. Capaian tersebut menempatkan Amerika Serikat sebagai mitra dagang dengan kontribusi surplus terbesar bagi Indonesia. “Untuk neraca perdagangan total, migas dan non-migas, ada tiga negara penyumbang surplus terbesar. Pertama yaitu Amerika Serikat sebesar US$ 18,11 miliar,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/2/2026).
Baca Juga:
Outlook Kredit RI Negatif: Danantara Siapkan Strategi Hadapi Moody's Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News