KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) mendorong negara-negara anggota G20 untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi sebagai solusi menghadapi kekhawatiran terhadap lonjakan utang global. Dorongan tersebut disampaikan dalam pertemuan G20 selama dua hari yang digelar di Asheville, North Carolina, AS.
Baca Juga: Lionel Messi Pamit dari Timnas Argentina, Era La Pulga Berakhir Pertemuan berlangsung ketika ekonomi global menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari guncangan energi akibat perang Iran, meningkatnya ketegangan perdagangan dengan China, hingga ketidakpastian dampak lonjakan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Utang global tercatat mencapai rekor hampir US$ 353 triliun pada awal tahun ini. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas keuangan dan membuat sebagian investor mulai mempertanyakan aset yang selama ini dianggap sebagai tempat berlindung, termasuk obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, pertumbuhan ekonomi menjadi jalan keluar utama dari tingginya beban utang. “Dunia dipenuhi utang setelah krisis keuangan global dan pandemi Covid-19, dan satu-satunya cara bagi kita untuk keluar dari kondisi ini adalah dengan tumbuh,” kata Bessent pada pembukaan pertemuan, mengacu pada krisis keuangan global 2007-2009 dilansir dari
Reuters. “Saya yakin banyak pemimpin sangat menerima gagasan ini,” tambahnya.
Baca Juga: AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Brent Sentuh US$ 91,52 per Barel Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh, yang menghadiri pertemuan kebijakan ekonomi internasional untuk pertama kalinya sejak menjabat pada Mei, mengatakan dirinya ingin mengetahui lebih jauh prospek pertumbuhan negara-negara anggota G20. “Jika saya harus menggambarkan kondisi saat ini, saya akan menyebutnya sebagai lonjakan investasi global,” kata Warsh. Menurut Warsh, lonjakan investasi tersebut telah membalikkan kondisi global savings glut yang sebelumnya membuat sebagian modal menganggur karena terbatasnya peluang investasi. Dorong Deregulasi Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 dijadwalkan bertemu dengan para pelaku usaha. Pertemuan tersebut mencerminkan pandangan pemerintahan Presiden Donald Trump bahwa pertumbuhan ekonomi dapat didorong dengan memberikan ruang lebih besar kepada sektor swasta melalui deregulasi dan peningkatan produksi energi.
Baca Juga: Ketua The Fed Warsh: Era Global Savings Glut Berakhir, Investasi Kini Melonjak Bessent mengatakan pertumbuhan ekonomi global telah berada di bawah potensinya dalam waktu terlalu lama. Menurut dia, penyebabnya tidak lagi dapat berasal dari kegagalan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sendiri. Departemen Keuangan AS mengidentifikasi sejumlah hambatan yang perlu ditangani negara-negara G20, antara lain beban regulasi dan administrasi yang berlebihan, insentif keuangan serta sistem perpajakan yang tidak tepat, minimnya investasi publik dan swasta, fragmentasi pasar domestik, serta kesenjangan keterampilan dan mobilitas tenaga kerja. AS Bela Kondisi Utang Bessent juga menyoroti pertumbuhan ekonomi AS yang kuat, salah satunya ditopang investasi infrastruktur AI. Investasi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury karena menyerap tabungan yang sebelumnya banyak mengalir ke obligasi pemerintah AS dan membantu menekan biaya pinjaman.
Baca Juga: Decathlon akan Akuisisi 50% Sport 2000 France, Bidik Pasar Ski Menjelang pertemuan G20, Bessent berupaya meredam kekhawatiran pasar terhadap tingkat utang AS. Ia menilai posisi AS masih lebih kuat dibandingkan sejumlah negara maju lainnya karena perekonomian AS terus tumbuh meskipun mengalami defisit anggaran yang besar. “Pertama-tama, saya tidak yakin di mana gejolak pasar obligasi itu terjadi. Yang penting juga adalah kami terus tumbuh,” kata Bessent dalam wawancara dengan Reuters. Selain agenda pertumbuhan, AS juga berupaya mendapatkan dukungan negara-negara G20 untuk mengisolasi Iran melalui ancaman sanksi sekunder. Langkah tersebut ditujukan untuk mengakhiri kebuntuan terkait Selat Hormuz yang telah mengganggu pasokan energi global. Washington juga akan mendorong negara-negara G20 meninjau kembali hubungan perdagangan dengan China untuk mengurangi ketidakseimbangan global. AS mendesak China mengurangi ketergantungan terhadap ekspor dan mengarahkan perekonomian lebih besar pada konsumsi domestik. “Dunia tidak dapat memiliki China dengan surplus perdagangan sebesar US$ 1,2 triliun,” ujar Bessent.
Baca Juga: Liverpool Resmi Datangkan Bradley Barcola dari PSG Senilai £120 Juta Menurut Bessent, kondisi perekonomian China relatif lemah sehingga negara tersebut berupaya mengandalkan ekspor untuk menopang pertumbuhan. Karena itu, China dinilai perlu melakukan penyeimbangan kembali ekonomi. Bessent mengatakan telah melakukan pertemuan dengan Gubernur Bank Sentral China Pan Gongsheng pada Minggu (30/8). Ia menyebut pertemuan tersebut berlangsung sangat baik, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut. Bessent juga mengonfirmasi akan bertemu dengan Menteri Keuangan Kanada di sela-sela pertemuan G20. Kanada sebelumnya mengumumkan tarif balasan yang akan berlaku dalam beberapa hari setelah negosiasi perdagangan untuk mencegah pengenaan tarif baru AS mengalami kebuntuan.