Utang Jangka Pendek Terpangkas 30,9%, Intip Prospek Saham TBS Energi Utama (TOBA)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatat perbaikan struktur keuangan pada semester I-2026. Utang bank jangka pendek turun 30,9% menjadi US$ 8,46 juta per 30 Juni 2026 dari US$ 12,24 juta pada akhir 2025.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, total liabilitas jangka pendek TOBA juga turun 13,5% menjadi US$ 143,24 juta dari US$ 165,64 juta pada 31 Desember 2025. Sementara itu, posisi kas mencapai US$ 94,7 juta pada akhir Juni 2026, dibandingkan US$ 102,3 juta pada akhir 2025.

Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menyebut penurunan utang bank jangka pendek yang dibarengi dengan posisi kas yang masih besar menjadi perkembangan positif di tengah transformasi bisnis TOBA.


Baca Juga: IHSG Melemah 0,47% ke 6.636 pada Jumat (4/9/2026), EMTK, ASII, JPFA Top Losers LQ45

“Penurunan utang bank jangka pendek yang disertai posisi kas yang tetap besar memberi ruang yang lebih baik bagi perusahaan untuk menjalankan kebutuhan operasional maupun ekspansi,” jelasnya, Jumat (4/9/2026). 

Perbaikan kondisi keuangan TOBA juga tercermin dari arus kas operasi. Pada semester I-2026, kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat US$ 14,58 juta, berbalik positif dari sebelumnya negatif US$ 31,57 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi kinerja operasional, laba kotor TOBA melonjak 102,9% menjadi US$ 28,23 juta pada semester I-2026 dari US$ 13,91 juta pada semester I-2025. Margin kotor juga meningkat menjadi 16,3% dari 8,1%.

Sementara itu, adjusted EBITDA konsolidasi TOBA mencapai US$ 25,73 juta, tumbuh 23,7% dari US$ 20,81 juta pada semester I-2025. Pada saat yang sama, rugi bersih TOBA menyusut 83,2% menjadi US$ 19,42 juta dari US$ 115,34 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Aditya menilai kombinasi arus kas operasi yang kembali positif dan pertumbuhan adjusted EBITDA menjadi indikator penting dalam melihat kemampuan TOBA memperbaiki struktur keuangannya.

“Penurunan utang akan lebih berarti ketika disertai perbaikan dari sisi operasional. Dalam kasus TOBA, operating cash flow sudah kembali positif dan adjusted EBITDA tumbuh, sehingga kualitas perbaikan keuangannya tidak hanya datang dari sisi neraca,” katanya.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.642 Per Dolar AS Hari Ini (4/9), Mayoritas Asia Naik

Dari sisi pendapatan, TOBA membukukan pendapatan konsolidasi US$1 73,02 juta pada semester I-2026. Kontribusi terbesar berasal dari bisnis pengelolaan limbah sebesar US$ 105,93 juta, diikuti pertambangan batu bara US$3 4,85 juta, perdagangan batu bara US$ 19,51 juta, serta kendaraan listrik US$ 9,06 juta.

Aditya bilang konsistensi arus kas dan pengelolaan kewajiban akan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan seiring dengan ekspansi bisnis TOBA.

“Kalau operating cash flow dapat terus dijaga positif sementara kewajiban jangka pendek tetap terkendali, ruang untuk menyeimbangkan ekspansi dan pengelolaan leverage akan semakin baik,” ujar Aditya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News