KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Utang luar negeri (ULN) Bank Indonesia (BI) melonjak cukup tajam hingga Juni 2026, tetapi di saat yang sama cadangan devisa (cadev) Indonesia justru terus menurun. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, posisi ULN BI meningkat dari US$ 27,26 miliar pada Maret menjadi US$ 30,11 miliar pada April, US$ 31,15 miliar pada Mei, kemudian melonjak menjadi US$ 42,46 miliar pada Juni 2026. Artinya, dalam satu bulan saja ULN BI bertambah sekitar US$ 11,31 miliar atau 36,3%. Jika dibandingkan dengan Juni 2025, posisi ULN BI tersebut meningkat sekitar 50%.
Menurut Josua, kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya kewajiban BI kepada pihak bukan penduduk, khususnya seiring dengan bertambahnya kepemilikan investor asing pada instrumen BI seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Baca Juga: Pemerintah dan Banggar DPR Sepakati RUU P2 APBN 2025 Lanjut ke Tingkat Berikutnya Dengan kata lain, kenaikan ULN BI tidak bisa disamakan dengan BI mendapatkan pinjaman tunai sebesar US$ 42,46 miliar dari luar negeri. "Ketika pihak asing membeli surat berharga yang diterbitkan BI, kewajiban BI kepada pemegang asing tersebut secara statistik masuk sebagai ULN," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (20/8/2026). Adapun dari total ULN BI sebesar US$ 42,46 miliar pada Juni, sekitar US$ 16,38 miliar berupa surat utang, US$ 17,35 miliar berupa kas dan simpanan milik bukan penduduk, serta sekitar US$ 8,73 miliar merupakan alokasi Hak Penarikan Khusus (
Special Drawing Rights/SDR) International Monetary Fund (IMF). Struktur tersebut menunjukkan bahwa lonjakan ULN BI lebih banyak berkaitan dengan operasi moneter dan arus dana asing ke instrumen BI, bukan pinjaman konvensional untuk membiayai belanja pemerintah. Di sisi lain, cadangan devisa justru bergerak turun. Cadangan devisa turun dari US$ 156,47 miliar pada akhir 2025 menjadi US$ 148,15 miliar pada akhir kuartal I-2026 dan sekitar US$ 145,6 miliar pada akhir Juni. Pada Juli 2026, cadangan devisa kembali turun tipis menjadi US$ 145,3 miliar. Josua menjelaskan, masuknya dana asing ke SRBI memang memberikan tambahan likuiditas dan membantu meredam tekanan terhadap rupiah. Namun, arus tersebut bukan satu-satunya faktor yang menentukan naik turunnya cadangan devisa. Pada saat yang sama, BI harus menyediakan valuta asing untuk berbagai kebutuhan, termasuk pembayaran ULN pemerintah, transaksi eksternal, serta intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.
Baca Juga: Utang Luar Negeri BI Melonjak, Namun Cadangan Devisa Menyusut, Ini Penyebabnya "Arus masuk asing ke SRBI memang membantu menahan tekanan, tetapi sebagian manfaat tersebut pada periode yang sama dapat tertutup oleh kebutuhan intervensi, pembayaran kewajiban luar negeri, maupun tekanan neraca pembayaran," jelas Josua. Dengan demikian, kenaikan ULN BI tidak otomatis membuat cadangan devisa naik dengan nilai yang sama. Sebagian dana asing yang masuk melalui instrumen BI dapat berfungsi sebagai penyangga, tetapi pada periode yang sama cadangan devisa dapat berkurang karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan valuta asing lainnya. Lebih lanjut, Josua mengatakan, kondisi tersebut akan lebih terlihat jika melihat aktiva luar negeri bersih BI, bukan hanya posisi cadangan devisa. Tagihan BI kepada pihak bukan penduduk meningkat dari Rp 2.841,7 triliun pada Mei menjadi Rp 2.993 triliun pada Juni. Namun, kewajiban BI kepada pihak bukan penduduk melonjak lebih cepat, dari Rp 803,6 triliun menjadi Rp 1.142,6 triliun. Akibatnya, aktiva luar negeri bersih BI turun dari sekitar Rp 2.038 triliun menjadi Rp 1.850,4 triliun hanya dalam satu bulan. "Cadangan devisa keseluruhan masih besar, tetapi penyangga eksternal bersih melemah karena kewajiban luar negeri naik lebih cepat daripada aset luar negeri," kata Josua. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah struktur ULN BI. Dari US$ 42,46 miliar ULN BI pada Juni, sekitar US$ 33,73 miliar atau 79,4% merupakan kewajiban jangka pendek.
Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Risiko Kenaikan BI Rate Masih Mengintai Menurut Josua, tingginya porsi jangka pendek tersebut berkaitan dengan karakter kepemilikan asing pada SRBI serta kas dan simpanan pihak bukan penduduk yang relatif mudah bergerak. Dalam kondisi normal, arus dana tersebut membantu stabilitas rupiah. Namun, apabila sentimen global berubah dan investor asing menarik dananya secara bersamaan, tekanan dapat muncul dari dua sisi, yakni pelemahan rupiah dan meningkatnya kebutuhan terhadap cadangan devisa. Meski demikian, Josua menilai kondisi tersebut belum menunjukkan persoalan serius dari sisi kecukupan cadangan devisa. Posisi cadev US$145,3 miliar pada Juli masih setara sekitar 5,5 bulan impor dan 5,3 bulan impor sekaligus pembayaran ULN pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Karena itu, menurutnya yang perlu dicermati bukan semata-mata besarnya ULN BI, melainkan mengapa ULN tersebut meningkat, bagaimana komposisinya, serta apakah kenaikan kewajiban luar negeri berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan aset luar negeri BI.
Baca Juga: Bapanas Usul Tambahan SPHP Jagung 150.000 Ton untuk Tekan Harga Pakan Peternak Dalam jangka panjang, Josua menilai Indonesia tetap perlu memperkuat sumber devisa yang lebih berkelanjutan melalui devisa hasil ekspor, investasi langsung, penguatan ekspor manufaktur dan hilirisasi, penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan, serta perbaikan neraca transaksi berjalan. “Sumber devisa yang lebih sehat harus datang dari peningkatan devisa hasil ekspor yang bertahan di dalam negeri, investasi langsung yang berjangka panjang, penguatan ekspor manufaktur dan hilirisasi, penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan, serta perbaikan neraca transaksi berjalan,” jelasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News