KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Peningkatan utang luar negeri (ULN) Bank Indonesia (BI) yang cukup signifikan sepanjang semester I-2026 perlu dicermati, terutama karena terjadi bersamaan dengan penurunan cadangan devisa (cadev). ULN BI meningkat sekitar US$17 miliar dari Januari hingga Juni 2026, yakni dari US$ 25,5 miliar menjadi US$ 42,5 miliar. Pada periode yang sama, cadangan devisa turun hampir US$ 9 miliar, dari US$ 154,6 miliar menjadi US$ 145,6 miliar.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai, peningkatan ULN BI sejauh ini lebih berperan sebagai
shock absorber yang membantu menahan tekanan terhadap rupiah sekaligus membatasi penurunan cadangan devisa. Meski demikian, kenaikan kewajiban tersebut belum cukup untuk membangun kembali penyangga cadangan.
Baca Juga: Pastikan Pendidikan Tetap Berjalan Pascabencana, Gibran Tinjau SD di NTT "Tanpa kenaikan tersebut, tekanan terhadap rupiah ataupun cadangan devisa kemungkinan lebih besar," ujar Faiz kepada Kontan, Kamis (20/8/2026). Ia menjelaskan, kenaikan ULN BI juga tidak berarti bank sentral meminjam US$ 17 miliar dan seluruh dana tersebut kemudian digunakan untuk intervensi pasar valuta asing. Pasalnya, komposisi ULN bank sentral perlu diperhatikan. Kewajiban BI kepada nonresiden juga mencakup kepemilikan asing pada instrumen rupiah, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Dengan demikian, sebagian kenaikan ULN BI merupakan konsekuensi dari masuknya arus modal portofolio asing ke instrumen BI, bukan semata-mata pinjaman valuta asing konvensional. Menurut Faiz, kondisi yang lebih menarik justru terlihat dari belum optimalnya inflow tersebut dalam mendorong akumulasi cadangan devisa untuk menutup kebutuhan valas domestik. Pada kuartal II-2026, investasi portofolio mencatat net inflow sekitar US$8,5 miliar, terutama ke Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI. Namun, cadangan devisa dari akhir Maret hingga Juni 2026 justru turun sekitar US$2,6 miliar. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pasokan valuta asing yang berasal dari arus modal portofolio tengah berhadapan dengan kebutuhan valas yang juga besar. Kebutuhan tersebut antara lain berasal dari pembayaran ULN pemerintah, kebutuhan valas domestik, serta operasi stabilisasi rupiah oleh BI. "Jadi tidak serta merta untuk intervensi stabilisasi rupiah saja," jelasnya.
Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu: Pemerintah Siapkan Anggaran Rp 31 Triliun Meski demikian, Faiz menilai kondisi cadangan devisa saat ini belum mengkhawatirkan dari sisi kecukupan. Pada Juli 2026, posisi cadangan devisa sebesar US$ 145,3 miliar masih setara dengan sekitar 5,5 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional Namun, arah perubahannya tetap perlu diperhatikan. Jika cadangan devisa terus menurun sementara kewajiban BI kepada nonresiden, khususnya yang berjangka pendek, terus meningkat, struktur external buffer Indonesia akan menjadi lebih sensitif terhadap risiko pembalikan arus modal (
sudden reversal).
Karena itu, ia menilai tantangan Indonesia ke depan bukan sekadar menarik lebih banyak dana portofolio asing melalui imbal hasil yang tinggi. Menurutnya, Indonesia perlu memperbesar sumber devisa yang lebih berkelanjutan melalui investasi langsung asing (FDI), ekspor, devisa hasil ekspor (DHE), serta perbaikan transaksi berjalan (current account). "Portofolio
inflows dapat membeli waktu dan membantu stabilisasi, tetapi tidak bisa terus menjadi substitusi bagi penguatan fundamental pasokan devisa," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News