Utang Luar Negeri Diproyeksi Bertambah, Ekspor hingga Pengelolaan Utang Perlu Dijaga



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Utang Luar Negeri (ULN) Indoensia di sepanjang 2026 diperkirakan meningkat namun terbatas.

Sebagaimana diketahui, posisi ULN Indonesia pada kuartal IV 2025 mengalami peningkatan. Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi ULN Indonesia pada kuartal IV 2025 mencapai sebesar US$ 431,7 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi ULN pada kuartal III 2025 sebesar US$ 427,6 miliar.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan, peningkatan ULN tersebut sejalan dengan kebutuhan pembiayaan anggaran dan strategi menjaga ketersediaan dana melalui kombinasi pinjaman dan penerbitan surat utang.


Baca Juga: Aturan Outsourching dalam Revisi UU Tenaga Kerja, Apindo: Perlu Penataan Lebih Baik

“Sedangkan utang luar negeri swasta cenderung stabil hingga menurun tipis karena korporasi akan lebih selektif menambah kewajiban valuta asing dan lebih mengandalkan pendanaan dalam negeri saat kondisi pasar global belum sepenuhnya longgar,” tutur Josua kepada Kontan, Rabu (18/2/2026).

Meski demikian, Josua melihat terdapat hal yang perlu diwaspadai dalam pengelolaan ULN tersebut. Menurutnya, risiko tersebut bukan semata level utang, melainkan kemampuan perekonomian menyediakan devisa untuk membayar jatuh tempo dan bunga, yang tercermin pada rasio pembayaran utang luar negeri atau Debt Service Ratio (DSR) Tier 1 pada kuartal IV 2025 yang rasionya berada 14,33%.

Josua menyebut, meski rasio tersebut memberi sinyal beban pembayaran utang relatif terkelola, tetapi tetap sensitif bila ekspor melemah atau biaya pinjaman naik kembali.

Pada saat yang sama, rasio utang luar negeri terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal IV 2025 sebesar 29,85% dinilau menunjukkan beban utang relatif moderat terhadap ukuran ekonomi.

Meski demikian, Josua menilai rasio tersebut bisa naik secara mekanis bila nilai tukar melemah karena nilai utang dalam dolar akan tampak lebih besar dalam rupiah meskipun utangnya tidak bertambah.

Dari sisi kapasitas menghasilkan devisa, Josua mencatat rasio utang terhadap ekspor pada kuartal IV 2025 sekitar 122,98%, menegaskan bahwa ketahanan utang sangat bergantung pada kinerja ekspor.

“Jika harga komoditas turun, permintaan mitra dagang melemah, atau hambatan perdagangan meningkat, maka rasio ini berpotensi memburuk meski posisi utangnya stabil,” ungkapnya.

Melihat beberapa kondisi di atas, Josua menyebut, kewaspadaan utama ke depan adalah menjaga kualitas pembiayaan pemerintah agar produktif dan tidak menambah beban pembayaran jangka pendek.

Baca Juga: Purbaya Sudah Cairkan Rp 4,63 Triliun, Siap Dipakai BNPB untuk Bencana Sumatra

Selain itu, perlu juga memperkuat basis ekspor bernilai tambah, memastikan pengelolaan risiko nilai tukar pada sektor swasta, serta memantau porsi utang jangka pendek berdasarkan sisa jatuh tempo yang pada kuartal IV 2025 berada di kisaran 18,12% terhadap total utang dan sekitar 49,99% terhadap cadangan devisa.

“Karena dua ukuran ini paling cepat mengubah tekanan likuiditas ketika sentimen global memburuk,” tandasnya.

Selanjutnya: SRC Gelar Pesta Retail 2026 di Yogyakarta, Tegaskan Komitmen Pemberdayaan UMKM

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Kota Palangkaraya dan Sekitarnya, Lengkap Sebulan!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News