Utusan Trump Bertemu Mediator, Israel Serang Gaza



KONTAN.CO.ID - KAIRO. Utusan Donald Trump bertemu dengan mediator dari Mesir, Qatar, dan Turki di Kairo pada Minggu (16/8/2026), menurut sumber diplomatik, dengan tujuan memajukan rencana perdamaian Gaza dari presiden AS.

Mengutip Reuters, Senin (17/8/2026), pejabat Hamas hadir dalam beberapa pertemuan yang diadakan oleh para mediator dengan utusan sekaligus menantu Trump, Jared Kushner, serta utusan perdamaian untuk Gaza, Nickolay Mladenov.

Seorang pejabat senior Israel mengatakan Kushner dan Mladenov dijadwalkan bertemu pada hari Senin dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang pada 9 Agustus menyatakan bahwa peta jalan terbaru Trump untuk perdamaian Gaza "tidak dapat diterima".


Baca Juga: Trump Ingin Tekanan Ekonomi Lebih Keras ke Iran, Ini Opsi yang Bisa Ditempuh AS

Tim Medis Gaza Melaporkan Serangan Melukai Beberapa Orang

Pejabat tersebut mengatakan Israel merasa khawatir dengan tuntutan Washington untuk menghentikan pembunuhan terarah terhadap militan Hamas di Gaza, sementara kelompok tersebut sedang membangun kembali kekuatannya.

Rencana perdamaian Trump menyerukan penghentian segera operasi militer di Gaza. Rencana ini mengantisipasi pelucutan senjata Hamas seiring penarikan pasukan Israel dari wilayah kantong tersebut dan pembangunan kembali Gaza di bawah pemerintahan sipil Palestina yang baru.

Israel kembali melancarkan serangan udara dalam beberapa hari terakhir setelah sebelumnya mengurangi intensitas serangan di wilayah kantong tersebut pada awal bulan ini.

Militer Israel menyatakan pada hari Minggu bahwa pesawat mereka menyerang dua militan dari kelompok Jihad Islam dan Hamas di Khan Younis dan Nuseirat. Setidaknya lima warga Palestina terluka dalam serangan yang menghantam sebuah lokasi perkemahan tenda, menurut keterangan tim medis di wilayah tersebut. 

Salah satu korban luka akibat serangan di Khan Younis, Gaza selatan, meninggal dunia karena luka-lukanya, demikian disampaikan petugas medis di Rumah Sakit Nasser kemudian.

Baca Juga: Paus Leo Serukan Penghentian Kekerasan terhadap Warga Palestina di Tepi Barat

Serangan udara terpisah—yang menurut militer Israel menargetkan militan lain—menghantam sebuah apartemen di kamp Nuseirat, Gaza tengah, dan melukai beberapa orang, menurut keterangan petugas medis.

Sebelumnya, pemimpin Hamas Khalil Al-Hayya bertemu dengan kepala intelijen Mesir, Hassan Rashad, di Kairo. Hazem Qassem, juru bicara Hamas di Gaza, mengatakan bahwa Al-Hayya akan memberikan penjelasan kepada para mediator mengenai apa yang disebutnya sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.

Negara-Negara Muslim Mengecam Penolakan Israel

Trump bulan lalu mengumumkan adanya terobosan dalam rencananya untuk mengakhiri perang.

Hamas menyatakan telah menyetujui rencana tersebut demi mencegah kembali pecahnya konflik, namun menambahkan bahwa pelaksanaan kesepakatan itu bergantung pada langkah Israel untuk terlebih dahulu memenuhi komitmennya sendiri, termasuk penarikan pasukan dan penghentian serangan.

Lima negara Arab serta Turki, Pakistan, dan Indonesia mengecam penolakan Israel terhadap rencana tersebut. Dalam pernyataan bersama pada hari Minggu, mereka menyebut bahwa penolakan itu mengancam upaya Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.

Juru bicara Netanyahu tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait pernyataan bersama tersebut.

Baca Juga: Rusia Serang Kyiv Semalam, Tiga Orang Terluka

Partai Likud pimpinan Netanyahu—yang elektabilitasnya sedang merosot menjelang pemilihan umum nasional tanggal 27 Oktober—menyatakan melalui unggahan di platform X bahwa negara-negara Arab tersebut ingin menggulingkan Netanyahu agar lawan-lawan politiknya mau "memberikan segala hal yang mereka inginkan".

Pada hari Minggu, Hamas mendesak para mediator dan Dewan Perdamaian—yang dibentuk sebagai bagian dari rencana perdamaian Trump—untuk memaksa Israel memenuhi kewajiban tahap pertama rencana tersebut, menghentikan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata, serta menyetujui peta jalan untuk tahap kedua rencana itu, demikian bunyi pernyataan kelompok tersebut.

Gencatan senjata bulan Oktober sempat menghentikan pertempuran besar dalam perang dua tahun yang menghancurkan di Gaza—yang dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023—namun kesepakatan itu gagal menghentikan serangan Israel sepenuhnya. 

Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 1.250 warga Palestina di Gaza—sebagian besar adalah warga sipil—sejak Oktober 2025. Tidak diketahui secara pasti berapa banyak dari korban tewas tersebut yang merupakan anggota kelompok militan, karena Hamas biasanya tidak mengungkapkan informasi mengenai pejuang mereka yang gugur.

Empat tentara Israel tewas akibat serangan militan di Gaza dalam kurun waktu yang sama, menurut data pihak Israel.

TAG: