KONTAN.CO.ID - Meninggalnya satu pasien lansia akibat virus influenza tipe A H3N2 subclade K atau sering disebut “Superflu” di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, belum lama ini, bikin masyarakat makin was-was. Kasus tersebut menambah daftar perhatian masyarakat terhadap penyebaran superflu yang digadang-gadang memiliki tingkat penularan tinggi. Berdasarkan data Kemenkes hingga akhir Desember 2025, superflu menjangkiti 62 orang di Indonesia. Hal ini menjadi sinyal peringatan bagi masyarakat.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim B. Yanuarso, Sp.A menyebut virus menular ini agak sulit dikenali dan dapat menembus kekebalan yang sudah terbentuk sebelumnya. Lantas, bagaimana cara pencegahan supaya tidak terpapar infeksi superflu?
Virus bisa masuk ke tubuh tanpa disadari, protokol kesehatan penting
Pada dasarnya prinsip pencegahan infeksi virus, termasuk superflu, tidak jauh berbeda dengan tindakan preventif penyakit pernapasan lainnya. Hal tersebut dibeberkan oleh Spesialis Patologi Klinik dan Imunologi Klinik Prof. Dr. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), PhD, FISQua, CHAE kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026). "Pada prinsipnya pencegahan infeksi virus itu sama, yakni mencegah masuknya virus. Kalau virus sudah terlanjur masuk, bagaimana mencegah virusnya berkembang," jelas Tonang.
Baca Juga: Risiko Gangguan Janin: 26 Produk Kosmetik Populer Ini Dilarang Keras BPOM Tonang menyebutkan, virus penyebab superflu masuk melalui berbagai cara. Salah satu penyebarannya melalui percikan droplet yang keluar saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara. "Penularan virus juga bisa melalui kontak erat dengan penderita. Kontak ini bisa lewat tangan, karena kebiasaan tangan mengusap wajah dan membawa virusnya," sebutnya. Kontak erat itu seringkali menjadi jalur masuk virus ke dalam tubuh tanpa disadari. Karena hal-hal di atas, Tonang menekankan langkah pencegahan masuknya virus superflu sejatinya mirip dengan protokol kesehatan yang dilakukan saat pandemi Covid-19. "Seperti waktu Covid-19, kita hindari kontak ketika berisiko sakit, menggunakan masker, sering mencuci tangan, istirahat, atau menjaga jarak dulu saat sakit," tuturnya. Penerapan protokol kesehatan tersebut merupakan langkah sederhana tapi krusial untuk menjadi benteng masuknya virus superflu. Penerapan protokol kesehatan tersebut merupakan langkah sederhana tapi krusial untuk menjadi benteng masuknya virus superflu.
Tubuh butuh antibodi untuk lawan virus yang masuk
Lantas, bagaimana jika virus superflu sudah terlanjur menembus tubuh? Saat virus superflu sudah masuk ke dalam tubuh, Tonang menyebutkan pasien memerlukan antibodi. Dalam hal ini, pasien superflu membutuhkan antibodi influenza. Peran antibodi menjadi sangat krusial untuk menekan perkembangan virus dan mencegah perburukan akibat infeksi virus. "Dalam hal ini, diperlukan antibodi. Sejauh ini laporan dari European Center for Disease Prevention and Control pada 19 Desember 2025 menujukkan bahwa vaksinasi influenza masih menunjukkan efektivitas (terhadap superflu)," kata Tonang.
Baca Juga: Eksportir Wajib Tahu! HPE Emas Tembus US$ 141.972/kg, Ini Sebabnya Berdasarkan data tersebut, secara keseluruhan, efektivitas vaksin mencapai 44 persen (95 persen dengan angka keakuratan (CI): 25–59 persen) terhadap semua jenis virus influenza. Lalu untuk influenza A (H3N2) penyebab adanya superflu, efektivitas vaksin menembus 52 persen (95 persen CI: 29–69 persen). Adapun efektivitas vaksin mencapai 16 persen (95 persen CI: -43–54 persen) terhadap influenza A(H1N1). "Dari segi usia, efektivitas vaksin dilaporkan: untuk A(H3N2) adalah 52 persen (95 persen CI: 21–72 persen) bagi usia 0–17 tahun dan 57 persen (95 persen CI: 4–84 persen) bagi usia 18–64 tahun," beber Tonang. Dari data tersebut bisa terlihat bahwa respons imun setiap orang dapat berbeda-beda, tergantung usia dan kondisi tubuh.
Tonton: Ancaman Tanah Jadi Milik Negara Segera Berlaku: Ini Cara Urus Girik ke SHM Dengan catatan itu, vaksin influenza memang belum seutuhnya mampu menghambat virus berkembang dalam tubuh pasien. Namun, setidaknya vaksin memiliki peran penting menurunkan risiko yang akan terjadi pada pasien. "Maka sifatnya (vaksin influenza) memang lebih ke mencegah terjadinya kondisi yang berat, walau belum bisa secara sepenuhnya mencegah berkembangnya virus yang terlanjur masuk ke dalam tubuh," pungkasnya.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul
"Superflu Merebak di Indonesia, Bagaimana Cara Mencegahnya?" Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News