Valas Komoditas Bergerak Beragam, Cermati Prospeknya hingga Akhir Tahun



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan valuta asing (valas) berbasis komoditas atau commodity currencies menunjukkan kinerja beragam di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Dolar Australia dan Selandia Baru masih menguat secara mingguan dan bulanan, sedangkan dolar Kanada tertekan dalam periode bulanan.

Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (13/10/2026) pukul 13.21 WIB, indeks dolar AS (DXY) berada di level 102,41, melemah 0,17% secara harian, tetapi menguat 0,57% dalam sepekan dan naik 3,04% dalam sebulan.


Sementara itu, pasangan AUD/USD berada di level 0,696, melemah 0,03% secara harian, tetapi menguat 0,30% dalam sepekan dan naik 2,50% secara bulanan.

Pairing NZD/USD tercatat di level 0,559, terkoreksi 0,11% secara harian, tetapi menguat 0,52% secara mingguan dan naik 3,19% secara bulanan.

Baca Juga: Harga CPO Berpotensi Terus Meningkat Hingga Akhir Tahun, Cermati Pemicunya

Adapun pasangan USD/CAD berada di level 1,427, menguat 0,07% secara harian, melemah 0,44% secara mingguan, tetapi naik 2,65% secara bulanan.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, prospek komoditas dan dinamika perekonomian masing-masing negara menjadi faktor penting yang menopang kinerja kedua mata uang tersebut.

"Menurut saya, penguatan AUD dan NZD secara mingguan maupun bulanan terutama didukung oleh prospek komoditas, kondisi ekonomi domestik, serta ekspektasi kebijakan moneter masing-masing negara," ujar Brahmantya kepada Kontan, Selasa (13/10/2026).

Permintaan China terhadap bijih besi, emas, dan mineral industri menjadi salah satu penopang dolar Australia.

Sementara itu, kinerja dolar Selandia Baru berkaitan erat dengan prospek ekspor produk susu dan pertanian serta perkembangan ekonomi domestiknya.

Di sisi lain, dolar Kanada menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi, pelemahan pasar tenaga kerja, dan ketidakpastian perdagangan dengan AS.

Baca Juga: IHSG Wait and See Jelang RDG BI, Berpeluang ke 6.900 Hingga Akhir Tahun

Kenaikan harga minyak juga tidak selalu menguntungkan mata uang Kanada, terutama ketika meningkatnya risiko geopolitik mendorong investor beralih ke dolar AS sebagai aset aman.

Risiko inflasi akibat kenaikan harga energi turut berpotensi mempertahankan sikap hawkish Federal Reserve (The Fed), sehingga membatasi penguatan mata uang komoditas.

"Selain itu, lonjakan minyak akibat konflik geopolitik tidak selalu menguntungkan mata uang komoditas. Ketika harga energi meningkat bersamaan dengan sentimen risk-off, investor cenderung meningkatkan permintaan dolar AS sebagai safe haven," jelasnya.

Hingga akhir 2026, Brahmantya memproyeksikan AUD/USD bergerak pada kisaran 0,6800–0,7200, NZD/USD di rentang 0,5500–0,5800, dan USD/CAD pada level 1,4350–1,4450.

Proyeksi tersebut menunjukkan peluang pemulihan dolar Australia dan Selandia Baru, sementara dolar Kanada masih berpotensi menghadapi tekanan.

Baca Juga: Rupiah Makin Lesu, Begini Skenario Pergerakannya Hingga Akhir Tahun 2026

Kendati demikian, investor perlu mencermati data inflasi AS, kebijakan The Fed, pergerakan DXY, imbal hasil obligasi pemerintah AS, harga komoditas, serta kebijakan bank sentral Australia, Selandia Baru, dan Kanada.

Apabila inflasi AS tetap tinggi dan mendorong kebijakan moneter ketat, penguatan dolar AS berpotensi membatasi pemulihan mata uang komoditas hingga akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News