KONTAN.CO.ID - Perusahaan tambang global Vale mencatat lonjakan laba bersih sebesar 36% pada kuartal I-2026, didorong oleh peningkatan volume penjualan dan harga komoditas yang lebih tinggi. Meski demikian, kinerja tersebut masih berada di bawah ekspektasi pasar. Dalam laporan keuangannya dilansir
Reuters Rabu (29/4/2026), Vale membukukan laba bersih sebesar US$1,89 miliar pada periode Januari–Maret 2026, lebih rendah dari perkiraan analis sebesar US$2,05 miliar berdasarkan konsensus LSEG.
Baca Juga: Dolar AS Stabil Rabu (29/4) Rabu, Tunggu Keputusan The Fed dan Konflik Iran Adapun laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tercatat sebesar US$3,83 miliar, naik 23% secara tahunan. Namun, angka ini juga sedikit di bawah proyeksi analis yang memperkirakan EBITDA mencapai US$3,96 miliar. “Kami mencatat awal yang solid di 2026,” ujar CEO Vale Gustavo Pimenta dalam laporan tersebut, seraya menyoroti peningkatan volume penjualan di berbagai segmen, termasuk bijih besi, tembaga, dan nikel. Vale sebelumnya melaporkan penjualan bijih besi mencapai 68,7 juta ton pada kuartal pertama, meningkat 3,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi level tertinggi untuk kuartal pertama sejak 2018.
Baca Juga: Perang Iran Jadi Beban Politik, Trump Dikabarkan Cari Jalan Keluar Penjualan tembaga dan nikel juga menunjukkan pertumbuhan masing-masing sebesar 11,4% dan 15,2% secara tahunan, seiring dengan peningkatan produksi yang mencapai level tertinggi kuartal pertama sejak 2017 dan 2020. Selain didukung volume, kinerja Vale juga terdongkrak oleh kenaikan harga komoditas. Harga realisasi rata-rata untuk bijih besi fines yang merupakan produk utama Perusahaan mencapai US$95,80 per ton, naik 5,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi pendapatan, Vale mencatatkan pendapatan sebesar US$9,26 miliar, naik 14% secara tahunan, meski masih sedikit di bawah estimasi analis sebesar US$9,37 miliar. Namun, perusahaan juga menghadapi sejumlah tekanan, antara lain penguatan mata uang real Brasil sekitar 5,5% terhadap dolar AS serta peningkatan biaya operasional.
Baca Juga: Goldman Sachs Larang Bankir Hong Kong Gunakan AI Anthropic, Ini Alasannya Di sisi belanja modal, Vale mengalokasikan capital expenditure (capex) sebesar US$1,09 miliar pada kuartal pertama, turun 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut masih sejalan dengan panduan capex tahun 2026 yang berada di kisaran US$5,4 miliar hingga US$5,7 miliar. Secara keseluruhan, kinerja Vale mencerminkan kombinasi antara permintaan yang tetap kuat terhadap komoditas logam dan tantangan dari faktor eksternal seperti nilai tukar dan biaya operasional.