Vale Indonesia (INCO) Bidik Produksi Nikel 70.800 Ton Tahun Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membidik produksi nikel dalam matte sebesar 70.800 ton sepanjang tahun ini. 

Head of Communication Vale Indonesia Bayu Aji mengatakan, target produksi tahun ini tidak jauh berbeda dengan realisasi produksi sepanjang 2023 yang sebesar 70.728 ton.

"Nah target produksi kita tahun ini 70.800 ton nikel, tahun lalu realisasinya kan 70.728 ton nikel," kata Bayu di Jakarta, Senin (1/4).


Bayu menuturkan, Vale tidak memiliki proyeksi harga nikel pada tahun ini karena memang harga nikel akan mengalami siklus naik turun. Di tengah harga nikel yang tertekan, INCO tetap membukukan kinerja positif tahun 2023.

Baca Juga: Vale Indonesia (INCO) Berharap Dokumen IUPK Segera Keluar

"INCO tetap bisa menjalankan operasional yang ada, efisiensi, dan menjalankan proses nikel secara berkelanjutan," ujar Bayu.

Pada 2023, INCO mencatatkan produksi sebesar 70.728 ton nikel dalam matte, naik 18% dari realisasi pada 2022 sebesar 60.090 ton nikel. Produksi INCO pada 2023 menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir, pada 2022 sebesar 60.090 ton dan 2021 sebesar 65.388 ton.

Setelah divestasi 14% saham ke Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID disepakati, Vale tancap gas mengawal tiga proyek hilirisasi nikel dengan nilai hingga US$ 9 miliar bersama sejumlah partnernya.

Vale sedang menggarap tiga proyek jumbo dengan total investasi senilai US$ 9 miliar atau Rp 140 triliun (dengan kurs Rp 15.600 per dolar AS). Ketiga proyek itu Sorowako Limonite senilai US$ 2 miliar, Smelter Bahodopi US$ 2,5 miliar, dan Smelter Pomalaa US$ 4,5 miliar. Jika ketiga proyek ini disatukan Vale dapat memproduksi 165.000 ton produk nikel. 

Bayu menuturkan ketiga proyek hiliriasi nikel yang terdiri dari pembangunan tambang dan smelter yang bekerja sama dengan mitra di Sorowako, Morowali dan Pomalaa.

Saat ini, Proyek Smelter di Pomalaa dengan kapasitas 120.000 ton nikel sedang dalam pembangunan atas dua bagian yakni early works dan main construction.

Aktivitas yang berjalan saat ini yaitu land clearing, pembuatan pon dan deep weel drilling. INCO juga tengah melakukan pembangunan construction office Pomalaa dan pembangunan gedung training center yang berlokasi di Main Office Alam Mekongga.

 
INCO Chart by TradingView

Sementara untuk Proyek Morowali, INCO telah melakukan serangkaian studi dan persiapan proyek. INCO melakukan beberapa konstruksi sebagai persiapan pertambangan, pengembangan sejumlah quarry.

Untuk konstruksi pelabuhan, INCO telah melakukan operasi stone column untuk perbaikan tanah dan melakukan proses pemancangan di area laut untuk pembangunan port. Proyek di Morowali ini baik untuk smelter maupun tambang memiliki total nilai investasi US$ 2,5 miliar.

Adapun, smelter di Sorowako, saat ini perusahaan tengah melakuka studi lokasi dari smelter. Progres memang tidak lebih cepat dibandingkan proyek di Pomalaa. Proyek di Sorowako, baik smelter maupun tambang memiliki nilai investasi sekitar US$ 2,1 miliar.

Bayu menegaskan proyek tersebut akan bergantung pada status Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang akan segera diberikan oleh pemerintah.

"IUPK ini menjamin, terutama karena investasi hampir US$ 9 miliar," pungkas Bayu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .