Vale Indonesia (INCO) Cetak Pertumbuhan Laba, Intip Prospeknya di Tahun 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan kinerja yang mengesankan di sepanjang tahun 2025.

Berdasarkan hasil kinerja laporan keuangannya, INCO mampu meraih pendapatan sebesar US$ 990,19 juta per 2025, meningkat 4,18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$ 950,38 juta. Sejalan dengan itu, beban pokok pendapatan juga meningkat menjadi US$ 879,34 juta dari sebelumnya US$  842,16 juta.

Dari sisi operasional, beban usaha tercatat meningkat cukup signifikan menjadi US$ 52,18 dibandingkan sebelumnya US$ 38,25 juta. Selain itu, beban lainnya juga naik menjadi US$ 12,71 juta dari sebelumnya US$ 9,87 juta. Sementara itu, pendapatan lainnya tercatat naik tipis menjadi US$ 3,92 juta dari US$  3,72 juta.


Baca Juga: Di Bawah Bayang Risiko Fiskal, Mampukah BI Menjaga Rupiah Tetap Perkasa?

Akibatnya, laba usaha INCO mengalami penurunan menjadi US$ 41,43 juta dari sebelumnya US$ 63,82 juta. Penurunan ini mencerminkan tekanan dari sisi operasional yang cukup besar sepanjang periode berjalan.

Namun demikian, kinerja bottom line tetap menunjukkan perbaikan yang kuat. Hal ini didukung oleh sejumlah pos non-operasional, di antaranya keuntungan dari pengakuan nilai wajar aset derivatif yang berbalik positif menjadi US$ 16,57 juta dari sebelumnya rugi US$ 19,94 juta. Selain itu, pendapatan keuangan juga meningkat menjadi US$ 37,26 juta dari US$ 36,2 juta.

INCO juga mencatatkan keuntungan dari pengakuan nilai wajar investasi saham sebesar US$ 6,68 juta serta kontribusi laba dari entitas asosiasi sebesar US$ 607 ribu.

Dengan berbagai faktor tersebut, laba sebelum pajak INCO meningkat menjadi US$ 94,53 juta dari sebelumnya US$  74,06 juta. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar US$ 18,47, laba tahun berjalan alias laba bersih INCO mencapai US$ 76,06 juta, melesat 31,68% dari US$ 57,76 juta pada periode sebelumnya.

Presiden Direktur INCO Bernardus Irmanto mengatakan, kinerja operasional sepanjang tahun lalu tumbuh cukup baik. Produksi nikel matte misalnya mencapai 72.027 metrik ton sepanjang tahun 2025, naik dari tahun 2024 sebanyak 71.311 ton. 

Secara triwulanan, produksi di triwulan IV tahun 2025, INCO mencatat produksi nikel dalam matte sebesar 17.052 ton atau sekitar 12% lebih rendah dibandingkan 19.391 ton pada triwulan III-2025. 

Penurunan tersebut disebabkan oleh kegiatan pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November dan ditargetkan selesai pada Mei 2026. Jika dibanding kuartal IV tahun 2024, ketika produksi mencapai 18.528 ton, hasil produksi pada kuartal IV-2025 tercatat sedikit lebih rendah, namun secara keseluruhan produksi sepanjang tahun tetap lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

"Hasil ini mencerminkan komitmen berkelanjutan perusahaan dalam menjaga keandalan operasional dan mengelola produksi secara efisien sepanjang tahun," kata Bernardus dalam keterangan resminya, Senin (16/3/2026).

Baca Juga: Garudafood (GOOD) Akan Gelar Buyback Saham Senilai Rp 50 Miliar, Simak Tujuannya

Selain itu produksi nikel matte Vale juga terus mencatat pertumbuhan secara komersialnya terutama penjualan bijih nikel saprolit dari blok Pomalaa dan Bahodopi. Pada 2025, penjualan bijih saprolit mencapai 2.316.023 wet metric tons (wmt), dengan volume bulanan tertinggi pada Oktober sebesar 516.167 wmt. Secara keseluruhan, Blok Bahodopi memberikan kontribusi terbesar terhadap penjualan bijih saprolit sepanjang tahun.

Pengiriman nikel matte Vale juga mencatat kenaikan yang moderat pada 2025 mencapai 73.093 ton dibandingkan 72.625 ton di 2024. Hal ini mendukung Vale bisa mempertahankan EBITDA yang solid sebesar US$ 228,2 juta sepanjang tahun lalu, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Adapun harga realisasi rata-rata nikel matte pada tahun 2025 tercatat sebesar US$ 12.157 per ton, turun 7%  dibandingkan US$ 13.086 per ton pada tahun sebelumnya. 

Meskipun berada dalam kondisi harga yang lebih lemah, peningkatan tingkat payability nikel matte yang mulai berlaku pada Juli tahun lalu, serta volume pengiriman yang lebih tinggi, mendorong kenaikan total pendapatan.

Secara triwulanan, pendapatan mencapai US$ 284,8 juta, naik 2% dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong oleh pemulihan harga nikel yang moderat. 

"Hal ini menegaskan komitmen kuat perusahaan bersama para pemegang saham dalam menghadapi kondisi pasar yang menantang serta keyakinan terhadap prospek jangka panjang industri,” ucap Bernardus. 

Dari sisi biaya, meskipun INCO telah melaksanakan pemeliharaan besar pada salah satu furnace dan berhasil mempertahankan unit biaya kas penjualan yang kompetitif sebesar US$ 9.339 per ton pada tahun 2025, sedikit lebih rendah dibandingkan US$ 9.374 per ton pada tahun sebelumnya.

Peningkatan ini mencerminkan disiplin biaya yang kuat serta menghasilkan tingkat biaya kas tahunan terendah dalam empat tahun terakhir, turun dari sekitar US$ 11.201 per ton pada tahun 2022.

Baca Juga: Simak Arah Pergerakan IHSG Usai BI Tahan Suku Bunga dan Saham Rekomendasi Analis

Sementara itu, unit biaya kas penjualan untuk bisnis bijih nikel Vale Indonesia tetap stabil pada kisaran US$ 17–US$ 19 per ton, termasuk biaya royalti dan logistik untuk bijih saprolit campuran.

Angka ini mencerminkan bijih yang sepenuhnya bersumber dari blok Bahodopi, mengingat penjualan dari blok Pomalaa masih terbatas pada kegiatan pengambilan bulk sampling test. Aktivitas penambangan penuh di Pomalaa diperkirakan dimulai pada tahun 2026.

Vale Indonesia juga memaparkan, laba bersih yang meningkat 32% secara tahunan menjadi US$ 76,1 juta mencerminkan perbaikan operasional yang konsisten, level produksi yang lebih kuat, serta pendekatan yang disiplin dalam efisiensi biaya.

Pada triwulan 4 tahun lalu, konsumsi HSFO, diesel, dan batu bara menurun sejalan dengan volume produksi yang lebih rendah, seiring dimulainya pembangunan kembali Furnace 3  sebagai upaya untuk menjaga kapasitas produksi di masa depan dan memastikan keselamatan operasional. Selama triwulan tersebut, harga HSFO turun sebesar 4%, sementara harga diesel dan batu bara masingmasing mengalami kenaikan moderat sebesar 6% dan 1%.

Sepanjang tahun, Vale Indonesia mengalokasikan sekitar US$ 485,9 juta untuk belanja modal, meningkat 46% dibandingkan US$ 332,1 juta pada tahun sebelumnya. 

Peningkatan ini terutama mencerminkan belanja untuk proyek-proyek pengembangan serta kebutuhan modal sustaining. 

Ke depan, Bernardus menyebutkan INCO semakin mempertajam fokus strategis melalui pengembangan proyek pertambangan dan fasilitas pengolahan hilir bersama mitra usaha patungan. Khusus di Pomalaa, proyek pertambangan perusahaan telah mencapai kemajuan sekitar 60%, dengan sejumlah fasilitas pendukung untuk tahap awal operasi berhasil diselesaikan. 

Perkembangan ini sejalan dengan kemajuan proyek HPAL yang telah mencapai sekitar 50% tahap konstruksi serta mencatatkan tonggak penting dengan kedatangan empat unit autoclave dan pemasangan unit pertama. 

Proyek ini tetap berada pada jalurnya untuk mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan ketiga  tahun 2026. 

"Seluruh inisiatif strategis tersebut terus dijalankan dengan disiplin keuangan yang pruden, tata kelola yang kuat, serta komitmen yang teguh terhadap keberlanjutan jangka panjang," tutupnya.

Baca Juga: EMAS, ARCI, PSAB Masuk Indeks Global, Siap-Siap Ada Inflow Triliunan Rupiah

Equity Analyst MNC Sekuritas, Raka Junico menilai penjualan bijih nikel menjadi penyelamat kinerja INCO. Menurutnya, perusahaan mampu mengimbangi tekanan penurunan harga nikel global dengan mencatatkan penjualan bijih nikel mentah sebesar US$ 102 juta.

“Strategi ini efektif dalam menjaga pertumbuhan pendapatan perusahaan,” tulis Raka dalam risetnya, Selasa (17/3/2026).

Di sisi lain, INCO juga dinilai berhasil mengendalikan biaya produksi. Meski tengah melakukan perbaikan fasilitas pabrik, khususnya Furnace 3, perusahaan tetap mampu menjaga efisiensi operasional dengan baik.

Untuk jangka panjang, INCO tengah mengembangkan proyek besar di Pomalaa dan Sorowako yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat dengan target rampung pada 2029.

Raka pun melihat prospek INCO pada 2026 lebih positif. Ia menilai INCO diperkirakan akan mengoptimalkan kuota penjualan bijih nikel serta berpotensi mendapat sentimen positif dari kenaikan harga jual rata-rata nikel global.

Dihubungi terpisah, Senior Teknikal Analis Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama menilai secara teknikal pergerakan saham INCO masih berada dalam tren naik. Namun, dalam jangka pendek saham ini tengah mengalami fase koreksi.

“Koreksi diperkirakan masih berlanjut dengan potensi penurunan menuju area support di kisaran Rp4.800–Rp5.000 per saham,” ujar Reyhan.

Ia pun merekomendasikan investor untuk bersikap wait and see, setidaknya hingga fase koreksi mereda atau harga telah mendekati area support tersebut.

Baca Juga: Valas Asia Masih Terbebani Sentimen Geopolitik Timur Tengah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News